Meneladani Suri Tauladan Rosulullah Saw

11 Februari 2012


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
[33:21]

Sabtu malam Minggu. Isya telah berlalu. Hujan gerimis ricis-ricis. Di sana, di dalam musola itu, orang-orang ramai berkumpul, dari bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, sampai anak-anak. Meski hujan gerimis, tak menghalangi para hadirin untuk hadir dalam acara yang hanya dihelat satu kali dalam setahun ini. Seperti tradisi tahun kemarin, tahun ini Musola Al-Wasilah Kelurahan 10 Ilir Kecamatan Ilir Timur II Kota Palembang memperingati Maulud Nabi 1433 H.

Hadirin satu persatu mulai memadati ruangan. MC mulai membacakan susunan acara pada malam yang berbahagia ini. Adapun susunan acara itu, meliputi pembukaan, pembacaan kalam ilahi, pembacaan kitab berjanji, penampilan syarofal anam, kata sambutan, dan acara puncak : Siraman rohani yang akan disampaikan oleh seorang ustadz sekaligus doa penutup.

Tanpa berpanjang-panjang lagi, acara pun dimulai. Satu persatu acara dimulai, hingga akhirnya sampailah pada acara inti. Acara yang dinanti-nanti. Acara untuk menenangkan hati. Ceramah agama. Ceramah kali ini, membuat aku selaku pendengar terkagum-kagum. Bukan aku terkagum-kagum pada penceramahnya, namun aku terkagum-kagum pada isi ceramah yang disampaikan oleh penceramah tersebut.

Pada klimaks pembahasannya, hatiku tergelitik. Terasa terenyuh. Mendayu-dayu. Si penceramah menggambarkan sosok seorang nabi Muhammad yang memiliki akhlakul karimah. Bagaimana hubungannya dengan Allah. Bagaimana hubungannya dengan sesama manusia. Beliau jalankan dengan baik, bahkan amat sangat baik. Satu yang sampai kini masih membekas dihatiku, bagaimana mahabbah Rosulullah pada umatnya yang begiiitu besar. Bahkan besar dan luasnya daratan China tak terkalahkan dengan cintanya Rosulullah pada pengikutnya.

Saat si penceramah mengetengahkan sebuah kisah dimana nabi Muhammad hendak berpulang ke Rahmatullah, kembali hatiku terasa diiris. Terasa perih. Sebenarnya kisah ini sudah kuperoleh sebelumnya dari seorang teman. Namun, karena kandungan dalam cerita ini bisa membuat kita sadar dan banyak belajar. Belajar meneladani suri tauladannya. Mencontoh sifatnya yang luhur. Maka sudah selayaknya, cerita ini kubagi pada pembaca sekalian. Begini ceritanya.

Ketika nabi Muhammad hendak bertemu ajalnya, maka nabi Muhammad mengumpulkan sahabat-sahabatnya. Lantas beliau berkata “Wahai sahabatku, siapa yang diantara kalian yang hadir pernah kusakiti, maka balaslah aku sekarang. Aku tidak mau, di akhirat nanti, aku disiksa dengan siksaan yang pedih.”
Seketika suasana diliputi dengan rasa haru. Ada yang berlinang air mata. Ada pula yang diam. Tak lama, ada seorang laki-laki yang mengacungkan tangan.
“Ya Rosullullah, engkau pernah mengenakan tongkatmu pada perutku saat kau merapikan barisan perang dulu. Entah disengaja atau tidak. Sekarang aku mau membalasmu,”

Para sahabat yang hadir kemudian terheran-heran dengan pertanyaan sahabat tersebut. Apa benar Rosullullah pernah begitu? Gumam para sahabat.
Rosulullah pun menyuruh Billal bin Rabbah untuk mengambil tongkat pada Aisyah. Singkat cerita, ketika tongkat itu diberikan Rosulullah kepada sahabat tersebut. Ketika sahabat tersebut hendak memukul perut Rosulullah justru sahabat itu memeluk perut Rosullullah dengan erat. Erat sekali.
“Demi Allah Ya Rosullullah, engkau tak pernah menyakiti aku. Aku ridho atas perbuatanmu. Aku melakukan ini hanya untuk mendekatkan kulitku pada kulitmu. Aku takut kehilanganmu,” ujarnya sambil menahan isak.

Masya ALLAH, begitu bagusnya sifat Rosullullah kalau kita lihat cerita diatas. Bayangkan, kalau kita lihat pada zaman sekarang, adakah manusia yang seperti nabi Muhammad? Walaupun ada, paling saya yakin dari 1000 orang cuma 1 atau 3 yang seperti itu.

Karena waktu sudah malam, jadi langsung saja saya sarikan dari ceramah yang saya peroleh pada malam ini, pertama: bagaimana kita mengaplikasikan akhlakul karimah Rosullah dalam kehidupan kita sehari-hari. Kedua, kita sebagai ummatnya, sudah sepatutnya untuk banyak-banyak membaca sholawat. Dengan melakukan itu, setidaknya kita telah mengingat beliau. Semoga saja, pada peringatan Maulud tahun ini, kita digolongkan oleh Allah menjadi umat yang selalu beruntung, baik dunia maupun akhirat. Amiin Allohumma Amiiin!

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

Ngobrol Asik..

Followers