Gerakan Literasi dengan Program Tacanang

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Program of International Student Assessment (PISA) pada tahun 2019, minat baca Indonesia berada di urutan ke-62 dari 70 negara. Dengan kata lain, Indonesia masuk sebagai 10 negara yang memiliki tingkat literasi terendah di antara negara-negara yang disurvei. Selanjutnya hasil riset Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia 2021 dan UNESCO 2022, indeks minat baca masyarakat di nusantara disebutkan hanya mencapai 0,001 persen, atau dari 1.000 orang hanya satu orang yang rajin membaca.

Berkaca dari survei dan hasil riset tersebut, sungguh miris! Menurut Sri Dewi Nirmala (2022), penyebab utama rendahnya literasi adalah keadaan sosial ekonomi keluarga. Harga buku yang mahal mengakibatkan hanya keluarga dengan status sosial ekonomi menengah dan menengah ke atas yang memiliki kesempatan untuk membeli buku. Sementara kesempatan bagi keluarga dengan status sosial ekonomi menengah ke bawah untuk membeli buku harus berpikir dua kali. Sebab, di tengah masyarakat telah terbentuk paradigma lebih baik membeli sembako dibanding harus membeli buku.

Menurut Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) 2020, dilansir dari konde.co, ternyata penyebab masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia adalah karena kurangnya akses untuk membaca, yaitu fasilitas perpustakaan, terutama pada daerah-daerah terpencil. Untuk memecahkan permasalahan di atas, maka tugas ini bukan berada di tangan pemerintah saja, melainkan semua lapisan masyarakat harus memiliki kesadaran untuk ikut serta meningkatkan literasi. Adalah dengan mengampanyekan Program Taman Baca Menyenangkan (Tacanang). Tacanang merupakan satu diantara solusi nyata untuk mengubah hasil survei dan riset tentang tingkat literasi Indonesia yang rendah menjadi lebih baik. Hadirnya program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan baca, tulis, dan pemahaman terhadap satu masalah -- sesuai dengan definisi umum dari literasi itu sendiri.

Sesuai dengan namanya, gerakan literasi ini diharapkan dapat dibangun di tiap desa atau kelurahan yang ada di wilayah kota dan kabupaten yang berada Provinsi Sumatera Selatan. Jika pun tidak dapat direalisasi, alternatif lain yang dapat ditempuh dengan membangun satu taman baca di satu kecamatan.

Taman Baca yang Menyenangkan

Konsep Tacanang bukan sekadar tempat membaca dan meminjam buku bacaan. Tetapi, Tacanang didesain sebagai tempat yang menyenangkan. Kegiatan mendongeng, permainan tebak kata, sampai belajar bahasa ibu dapat dilakukan di Tacanang. Besar harapan, semua anak dari berbagai kalangan ekonomi dapat menikmati fasilitas ini. Pemberian hadiah kepada anak-anak yang rajin hadir di Tacanang dipandang perlu. Hadiahnya tidak harus besar. Sehingga anak-anak termotivasi untuk selalu mendatangi Tacanang. 

Kemudian timbul pertanyaan, siapa motor penggerak utama kegiatan ini? Kegiatan ini dapat dimotori oleh pemuda-pemudi di lingkungan setempat. Tentunya pemuda-pemudi yang direkrut memiliki kepedulian terhadap bahasa dan literasi. Agar aktivitas Tacanang dapat berjalan, para pemuda dapat berkolaborasi dengan kepala desa, Ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PPK), orangtua, komunitas, duta bahasa, perusahaan swasta (selaku sponsor hadiah), dan lain- lain.

Untuk tempatnya bisa memanfaatkan taman, balai desa, lapangan olahraga, bahkan di teras rumah warga. Lalu, untuk waktunya dapat dilakukan setiap akhir pekan atau hari libur nasional. Mengingat, anak-anak libur sekolah. Selanjutnya berbicara pemenuhan koleksi buku, dapat bekerja sama dengan instansi, baik pemerintah maupun swasta. Pegawai yang berada di tiap instansi bisa mendonasikan buku, lalu menyumbangkan buku-buku tersebut secara kolektif ke Tacanang terdekat. Saat ini juga sudah banyak perusahaan swasta melalui corporate social responsibility (CSR) untuk meningkatkan budaya baca. Maka, peluang semacam ini harapannya dapat diambil oleh Tacanang.

Kemudian, di tiap tahunnya dibuat acara festival literasi dengan tujuan memberikan penghargaan kepada penggiat, komunitas, dan Tacanang yang memiliki kunjungan dan kegiatan literasi tertinggi. Selain itu, dalam festival literasi diadakan pelbagai lomba untuk menambah kemeriahan acara. Ketika program Tacanang ini dapat dioptimalkan dan didukung kolaborasi antar stakeholder terkait, maka tidak ada yang tidak mungkin. Tingkat literasi Indonesia yang rendah akan melesat naik. Semoga saja!

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

Ngobrol Asik..

Followers