Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Si Putih untuk Umroh
Ramadhan Penuh Berkah Bersama Abutours & Travel
Aku
mempercepat laju si putih menuju rumah. Si putih adalah panggilan untuk mobil
kesayanganku. Aku tidak mau melewati momen berbuka puasa di awal Ramadhan
bersama keluarga. Sesampai rumah, aku langsung menuju meja makan. Di sana sudah
ada ibu dan Zaki - adikku. Tetiba aku kaget. Di atas meja makan tersedia kurma
ajwa, kacang, kismis dan sebotol kecil bertuliskan air zam-zam.
“Dari
mana semua ini, Bu?” tanyaku.
“Tadi
si Alya – anak Pak RT nganterin oleh-oleh untuk kita. Pak RT dan istrinya kan
pulang dari ibadah umroh,” balas ibu.
Aku
mengangguk, mengiyakan jawaban ibu. Lalu, sekilas kutatap wajah ibu memandang
oleh-oleh itu, lama.
“Bu,
nggak apa ya Ilham jual si putih. Jadi, ibu bisa daftar umroh. Ibu kan rela menjual tanah warisan almarhum ayah demi
membiayai kuliah Ilham?” kataku sontak.
“Jangan
Nak, biarlah! Ibu doakan kau ada rejeki lain.”
Aku
menghela napas, mengamini perkataan ibu. Beberapa saat kemudian, suara adzan
menggema dari masjid. Gegas kami berbuka.
***
“Hei
Ham, Lo tahu gak? Travel umroh
AbuTour sedang ngadain lomba blog. Hadiahnya umroh!” beritahu Akmal – rekan
kerja terbaikku.
“Ya,
gue udah tahu. Tapi gimana mau ikutan, tugas dari si bos numpuk! Gimana keadaan
ayahmu?” tanyaku.
“Buruan
join! Besok sudah deadline lombanya!
Ayahku masih terbaring sakit di rumah, Ham,” jawab Akmal lesu.
“Oh
ya Mal, nanti temani aku ya?”
“Temani
ke mana?”
“Temani
aku ke pusat jual-beli mobil. Aku ingin menjual si putih biar ibu bisa umroh!”
“Serius?
Kamu mau jual mobilmu?”
“Iya
Mal, tak ada lagi yang bisa diharapkan selain menjualnya.”
Akmal
tersenyum. Aku balas pula dengan senyuman.
***
Pagi
ini, aku mengantar ibu pergi ke bazar sembako Ramadhan di lapangan kelurahan. Kebetulan hari ini aku libur bekerja.
Di sana telah berkumpul teman-teman ibu, termasuk Ibu Sutini – istri Pak RT. Kulihat
ibu Sutini sedang dikerumuni para temannya. Mereka sedang mendengar pengalaman
Bu Sutini selama menunaikan ibadah umroh.
Kulihat ibu-ibu sangat antusias dan wajahnya sumringah, termasuk ibuku yang
baru bergabung. Kembali aku menangkap keinginan besar di wajah ibu untuk
menginjakkan kaki ke Tanah Suci.
Tak
berapa lama, ibu mengajak pulang duluan. Kubawa belanjaan ibu. Baru beberapa
langkah kami pamit, hatiku panas. Salah seorang teman ibu menyindirnya. “Kapan
ya, ibu yang dulu itu mau jual tanah lalu uangnya untuk umroh pergi beneran?
Kok sampai sekarang gak jadi-jadi.”
Ingin aku berbalik badan untuk melawan. Tetapi
aku sedang puasa. Manapula ibu
melarangku. Ah, sudahlah!
Selama
perjalanan menuju rumah, aku merasa bersalah. Semua ini gara-garaku. Aku adalah
anak yang tidak mandiri. Tidak bisa membiayai kuliah sendiri. Coba saja ibu
tidak menjual tanah warisan mendiang ayah demi kuliahku, pasti ibu telah
menunaikan ibadah umroh. Apalagi di
zaman sekarang ini banyak travel umroh yang
menawarkan promo umroh murah, mulai
dari umroh haji, umroh regular
hingga umroh Ramadhan.
***
Ketika
jam istirahat kerja, kuajak Akmal pergi ke pusat jual-beli mobil. Keputusanku untuk
menjual si putih sudah bulat. Toh,
untuk mobilitasku sehari-hari aku
bisa menggantinya dengan sepeda motor. Kudatangi
showroom pertama. Kami disambut ramah
oleh seorang pria berdasi. Dandanannya rapi. Lantas kutawarkan mobilku. Si pria
itu tertawa terbahak. Dia menolak. Terlalu tinggi harga yang kutawarkan,
katanya. Kami gegas meninggalkan tempat itu.
Berikutnya
kami mampir ke showroom mobil lain.
Kali ini, kami disambut gadis muda. Seksi dan cantik. Wangi parfumnya. Ia kira
kami hendak membeli mobil. Dia lalu meminta maaf. Lantas, seorang wanita paruh
baya mengenakan baju warna merah senada dengan warna sepatunya menghampiri
kami. Rupanya ia pemilik showroom
ini. Bertanya ia kepada kami ada tujuan apa. Kujelaskan dengan pelan. Ia
menerima kami dengan baik. Hingga saat negosiasi, ia kutolak mentah-mentah.
Bagaimana tidak, ia mengajukan harga yang tidak masuk akal.
Si
wanita itu menyuruhku untuk mengiklankannya lewat internet saja. Namun, aku tak
mau. Aku takut tertipu. Kami lekas keluar showroom.
Kulihat Akmal sudah semakin gusar. Ia memintaku untuk kembali ke kantor.
Mengingat, waktu jam istirahat telah habis. Kuminta tolong kepada Akmal untuk
menghampiri satu showroom lagi saja. Akmal mengangguk pelan.
Kini,
aku masuk ke showroom terakhir. Aku
berharap, mobilku laku terjual. Sehingga sindiran teman ibu berlari dari
pikiranku. Seorang pria bertubuh tambun menerima kami. Akmal yang sejak tadi
gusar terus memencet smartphonenya.
Negosiasi berlangsung alot. Tapi aku memiliki keyakinan besar, si pria
berkumis ini mau membeli si putih.
Tetiba
aku kaget bercampur senang. Akmal menunjukkan smartphonenya kepadaku. Di layar sana, tertera jelas nama dan judul
tulisanku dinobatkan sebagai pemenang utama lomba blog dan berhak menerima hadiah
umroh. Aku langsung sujud syukur. Aku tidak menyangka tulisanku bakal menang.
Pasalnya banyak tulisan yang lebih bagus. Lagipula, aku mempostingnya di detik-detik
terakhir.
Akmal segera menarik tanganku keluar showroom. Aku membatalkan untuk menjual si putih. Pemilik showroom melongo, heran bercampur bingung. Aku terus terbayang wajah ibu. Sungguh, ini merupakan berkah Ramadhan. Terima kasih banyak Yaa Alloh, akhirnya aku bisa memberikan kado umroh untuk ibu!” bisikku dalam hati. #LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah
#SemuaBisaUmroh.
Penulis sedang mengikuti Blog Contest Ramadhan Bersama Abutours & Travel
Akmal segera menarik tanganku keluar showroom. Aku membatalkan untuk menjual si putih. Pemilik showroom melongo, heran bercampur bingung. Aku terus terbayang wajah ibu. Sungguh, ini merupakan berkah Ramadhan. Terima kasih banyak Yaa Alloh, akhirnya aku bisa memberikan kado umroh untuk ibu!” bisikku dalam hati. #LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah
#SemuaBisaUmroh.
Penulis sedang mengikuti Blog Contest Ramadhan Bersama Abutours & Travel
Wednesday, July 12, 2017 | Labels: Berkah Ramadhan, Biaya Umroh, Cerpen, Daftar Umroh, Haji Umroh, Ibadah Umroh, Puasa, Ramadhan, Travel Umroh, Umroh Murah, Umroh Ramadhan | 0 Comments
Menanti Pak Salim
Hari
ini, aku sungguh senang. Betapa tidak, Pak Salim akan datang ke rumah membawa
bantuan untukku. Pak Salim adalah Kepala Desa kami. Sosoknya dekat dengan
rakyat. Kedatangannya bukan karena ingin mencari simpati. Bukan pula meminta
dukungan kepada keluargaku karena beberapa bulan lagi dia akan kembali maju
mencalonkan kepala desa. Bukan, bukan itu maksudnya! Ini kunjungan rutinnya ke
rumah.
Setiap
tiga bulan sekali, dia tak pernah absen datang ke rumah menyalurkan bantuan
dari Dinas Sosial untuk anak cacat sepertiku. Pak Salim pemimpin amanat. Tak
pernah sekalipun ia menyunat bantuan
yang diberikan.
Kulirik
jam yang menggantung setia di
dinding rumahku. Jarum pendeknya terus mendekati angka delapan. Bergegas
kuminta emak untuk memandikanku. Aku tak mau jika Pak Salim datang, aku masih
dengan keadaan wajah yang kusut.
Sehabis
mandi, kuminta emak untuk membantuku mengenakan baju paling bagus yang
kumiliki. Lalu mendorongku ke teras rumah untuk menyambut kedatangan Pak Salim.
Kalau sudah begitu, aku akan duduk mantap di atas kursi roda sampai Pak Salim
datang.
Tiba-tiba
benakku melancong pada masa lima tahun silam – saat Pak Salim belum menakhodai
desa kami. Setiap tiga bulan sekali, bapak harus membelah fajar melintasi sawah
menembus tanjakan-turunan untuk mengambil bantuan ke balai desa. Bapak harus
pagi-pagi sampai di sana. Karena setelah itu, bapak akan bekerja pada Tuan
Amin. Aku kadang kasihan melihat bapak. Bapak kadang kehujanan. Kadang pula
bajunya sampai kering di badan.
Pernah
suatu hari, bapak memikul sekarung beras. Di tengah perjalanan, bapak terjatuh.
Berasnya berhamburan. Untung banyak warga yang menolong. Kalau ingat itu, aku
ingin menangis. Ingin pula mengutuk diri ini. Mengapa memiliki tangan dan kaki
bengkok dan pendek sejak lahir. Mengapa mulut ini tak bisa berbicara seperti
kebanyakan orang. Aku benar-benar manusia yang tak bisa diandalkan!
Aku
tersentak kaget ketika emak menyentuh pundakku. Emak membawakanku sepiring nasi
dan lauk seadanya.
“Tin,
ayo makan dulu! Sejak pagi tadi kamu belum makan.” Kata emak setelah berdiri di
sampingku.
Aku
menggelengkan kepala, pelan.
“Ayo
Tini, makanlah dulu! Sedikit saja. Nanti kamu masuk angin.”
Aku
menggelengkan kepala dengan cepat. Lalu menjambak rambut, menggigit tangan.
Emak terdiam. Begitulah kebiasaanku. Kalau tidak senang, maka apapun akan
kulakukan. Aku hanya ingin makan bersama Pak Salim walau hanya sebentar.
Gegas
emak berlalu dari pandanganku menuju dapur. Di dapur, emak tengah merebus
singkong untuk disediakan pada Pak Salim. Sementara, di sini aku masih setia
menanti Pak Salim. Aku yakin, dia akan datang sebentar lagi.
Tak
lama kemudian, kudengar samar-samar deru suara sepeda motor dari ujung jalan.
Aku berteriak girang. Itu pasti Pak Salim, pikirku. Jujur, sudah tak sabar aku
melihat parasnya yang tampan. Tak sabar rambutku diusapnya penuh sayang. Tak
sabar aku memakan singkong bersamanya. Namun, rasa senangku perlahan memudar
saat kudapati yang mengendarai sepeda motor itu adalah Bik Renti – pemilik usaha
penjualan bawang.
Bik
Renti ke rumah hendak mengambil bawang yang telah dikupas emak kemarin
sekaligus memberikan beberapa kilo lagi bawang yang hendak dikupas. Hampir
separuh para ibu di desa ini mengambil upahan mengupas bawang pada Bik Renti.
Lumayan, bisa menambahi kebutuhan sehari-hari, kata ibu-ibu di desa ini suatu
ketika.
***
Suara
adzan ashar dari corong musola berkumandang. Suara muadzin yang mengumandangkan
adzan itu merdu, merdu sekali. Tapi, aku heran. Sampai detik ini, tak kujumpa
wajah Pak Salim. Kuharap, wajah yang memancarkan terang sinar rembulan itu kini
tengah menuju ke rumah. Membawa bantuan untukku.
Aku
tahu karakter Pak Salim. Dia tidak akan bohong. Dia selalu menepati janji.
Buktinya saja kata bapak. Satu hari setelah dia dilantik menjadi Kepala Desa,
Pak Salim langsung merealisasikan untaian janji kampanyenya. Dia turun ke
lapangan, melihat dan mendengarkan langsung aspirasi warganya. Dia menambal
jalan yang berlubang, membangun jembatan, memperbaiki musola, dan melakukan gebrakan
baru di bidang pertanian. Pak Salim memang tipikal pemimpin yang peduli rakyat.
Kulihat
di ujung teras, emak hampir menyudahi tugasnya mengupas bawang. Sedang aku,
masih tetap setia menanti Pak Salim. Aku yakin, Pak Salim pasti datang. Sejurus
kemudian, emak mulai membereskan kulit-kulit bawang yang berserakan lalu
bangkit masuk ke dalam rumah.
Setengah
jam berlalu. Emak menyembul dari balik pintu. Emak menujuku membawa nasi dan
segelas air minum. Perlahan emak semakin mendekat, mencoba membujukku.
“Tin,
ayo kamu makan dulu! Kamu belum makan sejak tadi. Mungkin besok Pak Salim akan
kemari!”
Aku
terdiam sejenak.
“Ayo
Tini, makanlah dulu! Nanti kamu masuk angin!”
Kali
ini, aku tidak bisa membohongi emak dan diri sendiri. Perutku sudah amat lapar.
Kuminta emak untuk menyuapiku. Seketika itu, gurat wajah emak berubah
sumringah. Sembari disuapi emak, mataku tak henti melihat sepeda motor yang
lewat di depan rumah. Tak sabar aku menunggu kedatangan Pak Salim. Aku yakin,
dia akan datang membawa bantuan untukku.
“Habis
makan ini, kamu mandi ya Tin! Setelah itu, kita tunggu lagi Pak Salim di sini,”
kata emak dengan lembut.
Aku
mengangguk. Emak tersenyum, melihatkan barisan giginya yang masih rapi.
Belum
sempat emak menggiringku menuju kamar mandi, sayup-sayup terdengar suara bapak
berteriak memanggil emak dari halaman rumah.
“Yati….
Yati…!”
Dari teras, kulihat
bapak berlari-lari kecil menghampiri kami. Napasnya tersengal-sengal. Tiba-tiba
emak tercenung, sementara aku menatap wajah bapak tak berkedip.
“Bapak
kenapa bajunya berdarah?” tanya emak ingin tahu.
“Ini
darah Pak Salim, Ti!” sahut Bapak.
“Maksudnya, Pak?” jawab emak bingung mencerna kata-kata
bapak.
“Setengah
jam yang lalu, sepeda motor Pak Salim ditabrak mobil, Ti. Mobil yang
menabraknya melarikan diri. Sembako yang dibawanya berserakan di jalan. Tadi
Bapak membantu membopong tubuh Pak Salim ke dalam ambulans,” papar bapak.
“Jadi
bagaimana sekarang kondisi Pak Salim, Pak?” buru emak.
Aku
memasang wajah ingin tahu, pun dengan emak.
“Pak
Salim meninggal dunia, Ti!” jawab bapak pelan sambil menundukan kepala.
Aku
tersentak kaget. Hatiku
seperti disambar petir, ditusuk ratusan jarum. Mataku
tiba-tba basah, air mataku menetes perlahan. Tubuhku lemas, lemas sekali.
Seketika kurasakan angin yang menggoyang pucuk-pucuk daun mangga dan reremput
di halaman rumah ikut terdiam. Kulihat wajah emak yang mulai keriput ikut pula
dibasahi air mata.
Aku
tak tahu harus berbuat apa. Sungguh, aku begitu kehilangan Pak Salim. Aku takut
tidak ada lagi sosok yang dapat menggantikan kepemimpinan Pak Salim. Dia
pemimpin amanat. Dekat dengan rakyat.
Buru-buru
emak menenangkanku, lalu mendekapku erat.
Gang Sempit, Februari 2015
Cerita ini dibuat untuk mengenang 17 tahun wafatnya Ayahanda,
Salim Wijaya.
Sunday, February 08, 2015 | Labels: Cerpen | 0 Comments
Pengabdian Diri
Malam semakin
pekat. Angin berhembus pelan masuk dari celah bilik kamarku. Jarum jam yang
menggantung di dinding terus berdetak. Kubiarkan lampu masih menyala. Aku
tengah sibuk mengoreksi lembaran ujian muridku. Masih ada setumpuk yang belum
dinilai. Kalau kubiarkan, esok pekerjaanku makin menumpuk. Aku tak mau menjadi
pribadi yang sering menunda-nunda. Tak baik, pesan mendiang ibu saat aku masih
duduk di bangku SMP.
Tak berapa
lama, bunyi sms masuk. Kubuka lalu kubaca. Aku tersentak kaget. Pesan itu dari Bang
Hadi, kakak laki-laki tertuaku. Isinya begini: Ren, Pemkot sedang membuka lowongan CPNS. Cepat kamu pulang. Urus
berkas-berkasnya. Tinggalkanlah dusun kecil itu! Berulang kali kubaca pesan
singkat itu. Antara senang dan sedih aku membacanya. Buru-buru aku menekan nomor
telelpon Bang Hadi, lalu kuhubungi ia. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hanya gagal
yang kuperoleh. Nomor Bang Hadi tak bisa kuhubungi. Mungkin Bang Hadi sudah
tidur, pikirku. Kulanjutkan kembali mengoreksi kertas ulangan anak-anak seraya
ditemani secangkir kopi khas dusun ini.
***
Aku berjalan
gontai menuju gedung sekolah itu. Sebenarnya hari ini aku tak ingin masuk mengajar.
Kepalaku sedang pusing. Di tambah lagi dengan pesan singkat dari Bang Hadi semalam,
membuatku semakin pusing. Tapi hari ini jam pelajaranku padat. Aku tidak mau
meninggalkan kewajibanku sebagai seorang pengajar – sebagaimana awal janjiku.
Dari jauh,
kulihat beberapa murid menyusulku tergesa. Semakin dekat, wajah-wajah penuh asa
itu semakin menyorotkan sinar ketulusan. Aku memasang senyum istimewa. Aku tak
ingin menunjukan rasa sakit yang kurasa pada mereka. Setelah dekat, mereka
berebutan menyalamiku. Aku balas mengelus rambut mereka satu persatu.
“Bu, hari ini Toni tidak masuk
sekolah lagi,” kata Vita, murid kelas IV.
“Iya Bu, Toni tidak masuk
sekolah lagi,” timpal Hani.
“Jadi, kemana Toni sudah tiga
hari tidak masuk sekolah?” tanyaku bingung.
“Toni sakit, Bu!” sahut Deni, teman
sebangku Toni.
“Ya sudah, nanti sepulang
sekolah kita lihat Toni ke rumahnya,” jawabku bijak.
Gegas kami melangkah menuju
ruang kelas. Suara lonceng menandakan jam pelajaran pertama baru saja berbunyi.
Sesuai janjiku
kemarin, hari ini aku akan mengadakan ulangan matematika kepada murid kelas IV.
Kuperintahkan kepada mereka untuk mengeluarkan selembar kertas. Lalu aku
melangkah menuju papan tulis. Kutulis soal demi soal ulangan kali ini. Di
belakang, sesekali kulihat para muridku sangat antusias menulis.
“Jawablah dengan benar ya
anak-anak! Siapa yang mendapatkan nilai 10, Ibu akan kasih hadiah,” kataku setelah
menuliskan lima soal ulangan kali ini.
Kemudian aku
duduk di bangku seraya mengabsen murid-muridku. Setelah itu, kupandangi satu
persatu wajah mereka. Ulan, gadis kecil berhidung bangir itu sangat antusias
mengerjakan soal dariku. Sampai peluh di dahinya mengalir pun, tak ia gubris.
Ari, bocah hitam manis yang bercita-cita menjadi Menteri Pertanian itu,
tangannya tak henti menari-narikan penanya di atas kertas. Hani, gadis kecil
berambut panjang itu tampak gelisah. Tapi kutahu, ia mampu untuk mengerjakan
soal yang kuberikan. Ia sebetulnya anak yang pandai.
Tiba-tiba hp
dari saku seragamku berbunyi – menandakan ada pesan masuk. Lekas kuambil, lalu
kubuka. Rupanya sms dari Ratna, teman kuliahku dulu. Isi smsnya sama yang
dikirim Bang Hadi semalam; tentang penerimaan CPNS. Aku terdiam sejenak setelah
membaca pesan singkat itu. Kemudian, kubalas sms dari Ratna.
Jujur,
sebenarnya terbersit di hati ini untuk mengikuti tes CPNS. Tapi, aku sudah betah
mengajar di dusun ini. Aku suka semangat belajar anak-anak di sini. Semangat
mereka menyala-nyala seperti api yang membakar kayu bakar. Manapula aku tak mau
mengingkari janji pada Bu Fatimah, Ibu Kepala Sekolah. Aku telah diamanatkannya
menjadi wali kelas merangkap guru matematika, kerajinan tangan dan kesenian
untuk kelas I sampai VI. Seketika bingung menjalar ke seluruh tubuhku.
“Bu, Ulan sudah mengerjakan semua soalnya!”
Mendadak suara Ulan
menyentakan lamunku.
“Iya, Lan. Sini Ibu lihat,”
sahutku gelagapan.
Sesaat
kemudian, terdengar suara lonceng dipukul. Menandakan pelajaran matematika
telah usai. Buru-buru anak-anak mengumpulkan jawabannya. Kuperiksa sepintas
jawaban dari mereka. Aku tersenyum bangga. Semua muridku mampu menyelesaikan
soal yang kuberikan dengan baik. Bersegera kutinggalkan kelas yang memiliki
banyak prestasi ini, lalu aku melangkah ke kelas lain.
***
Suara
lonceng dipukul berkali-kali – menunjukan waktu jam pulang tiba. Murid-murid
mulai berdoa, menyalamiku, kemudian menghambur pulang. Saat hendak berjalan menuju
gerbang, kulihat beberapa murid kelas empat masih berkumpul di sana. Entah apa
yang tengah mereka tunggu. Ketika aku melintas tepat di depan mereka, Hani
menghentikan langkahku. Aku kaget.
“Buuu, jadi kan kita hari ini ke rumah Toni?” tanyanya lembut.
“Ke rumah Toni?”
“Iya, kata Ibu tadi pagi kita akan ke rumah Toni!”
“Astaghfirullah, Ibu lupa!
Terima kasih ya sayang, telah mengingatkan Ibu. Ayo, sekarang kita ke rumah
Toni!”
Deni, si ketua kelas menakhodai jalan kami. Ia
berada di depan, sebagai petunjuk arah. Kebetulan rumah Deni tak jauh dari
rumah Toni. Jadi ia tahu persis letak rumah Toni. Beberapa menit kemudian, aku
terkejut. Jalanan menuju rumah Toni penuh dengan lumpur. Sejurus kemudian rasa
jijik menyerangku. Namun tidak bagi anak-anak muridku. Dengan sigap, mereka
melepas sepatunya. Lalu menancapkan kakinya ke dalam lumpur.
Tiba-tiba air mata ini ingin tumpah, namun kucoba untuk menahannya. Ya Allah, begitu
tinggi mereka menjunjug nilai persahabatan, bisikku dalam hati. Gegas kuusir
rasa jijik yang menyelinap. Lalu kubuka sepatuku. Kucelupkan kakiku pada lumpur
kotor itu. Aku tak mau membuat murid-muridku kecewa. Aku ingin membuat mereka
selalu tersenyum, tersenyum, dan tersenyum.
Tak berapa lama, kami sampai di rumah Toni. Seorang
wanita paruh baya menyambut kedatangan kami. Rambutnya panjang terurai. Ia
tersenyum lembut.
“Silakan masuk, Bu!” katanya ramah.
Kami semua masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, kulihat Toni tengah
terbaring lemah di atas kasur. Ketika kuhampiri, Toni masih sempat menyalamiku.
Beberapa menit kemudian, Maher Zain bersenandung
merdu lewat Thank You Allahnya. Ada
panggilan masuk. Kurogoh ponselku. Nama Bang
Hadi tertera di sana. Lekas kujawab.
“Wa’alaikum salam, Bang!”
“Ren, pokoknya besok kamu harus
pulang! Penerimaan CPNS tinggal beberapa hari lagi.”
“Tapi Bang… Reni sudah betah
mengajar di sini Reni,” potongku cepat.
“Terserah! Kalau kamu ingin membuat
Ayah dan Ibu bahagia di alam kubur, cepat kamu lamar!” katanya ketus.
Klik. Bang Hadi
mengakhiri pembicaraannya. Aku mendesah. Aku tahu Bang Hadi sangat
menyayangiku. Ia tak mau melihat adik-adiknya mendapatkan pekerjaan yang tidak
sesuai menurutnya. Tapi bagiku, mengajar di dusun ini sama saja mengajar di
kota. Justru di sini, aku banyak menemukan nuansa berbeda yang tak kudapat di
kota. Aku banyak belajar tentang segala hal di sini. Belajar tentang arti bersyukur, semangat hidup,
persahabatan, kerukunan, gotong royong, dan masih banyak lagi.
***
Malam ini, aku
mulai mengemas beberapa pakaianku. Esok aku akan pulang ke kota dan melamar
sebagai PNS. Sehabis ashar tadi, aku telah meminta izin pada Ibu Fatimah, dan
beliau pun memberikan izin. Terpaksa aku berbohong padanya. Kualasakan Bang
Hadi diopname di rumah sakit. Aku yakin, kalau aku berkata jujur, di wajahnya
akan terbit gurat kecewa. Sepertinya beliau tak mau kehilanganku.
Tak lama, pintu
kamarku diketuk. Gegas kubuka. Di balik pintu telah berdiri Ibu Fatimah.
“Ya Bu, ada apa?”
“Itu di luar Ren, ada yang mengaku
sebagai orangtua dari Toni, murid kelas empat. Dia ingin bertemu denganmu.”
Aku ternganga, bibirku membulat
membentuk huruf O.
Selama menetap di
dusun ini, memang aku tinggal serumah dengan Ibu Fatimah. Beliau telah
menganggapku sebagai anaknya sendiri. Gegas aku dan Ibu Fatimah melangkah ke ruang
tamu. Dan benar, di sana telah duduk Ibu Toni. Tampaknya ia gelisah. Kulihat
berulang kali dia meremas
tangan dan menggigit bibirnya. Ketika ia menatap ke arahku,
buru-buru ia mendekatiku.
“Buu… Toni Bu…,” desisnya.
“Apa yang terjadi, Bu?” tanyaku ingin
tahu.
“Badan Toni semakin panas saja, Bu.
Dia selalu memanggil nama Ibu Reni.”
Malam itu juga, aku dan Ibu Fatimah
langsung menuju rumah Toni. Di tengah perjalanan, air mata Ibu Toni tak henti
mengalir. Sesekali kudengar isaknya. Namun aku berusaha menenangkannya.
***
Sehabis menunaikan
sholat subuh, aku mulai bersiap-siap. Kuhadapkan wajahku pada cermin. Bersolek aku
dan memasang jilbab. Sesaat kemudian, wajah satu per satu anak-anak muridku menyelinap
di pelupuk mata. Wajah-wajah penuh semangat itu terus membayangiku. Mendadak pikiranku
hinggap pada perbincangan dengan mereka dua bulan yang lalu. Saat kutanya
bagaimana kalau aku tak mengajar lagi di dusun ini. Hampir dari raut muka mereka
menunduk lesu. Mereka seperti bunga layu yang tak pernah disiram.
Kutepis bayangan
wajah anak-anak, bersegera aku melangkah keluar kamar. Di ruang tamu, Ibu
Fatimah telah menungguku.
“Bu, Reni permisi
pulang ke kota ya!”
“Iya Ren. Hati-hati
di jalan dan jaga diri baik-baik!”
Aku menuju ke luar
rumah dibimbing Ibu Fatimah. Duduk kami di teras rumah sembari menanti kedatangan
Pak Din. Pak Din akan mengantarkanku ke perusahaan travel yang ada di kecamatan
dengan sepeda motornya. Ketika Ibu Fatimah bangkit sebentar hendak mengambil sebungkus
biskuit ke dalam rumah, kembali pikiranku dipenuhi dengan wajah-wajah anak
muridku. Seolah-olah mereka berbicara, duduk memohon kepadaku. Ibu jangan
pergi, Ibu tetap mengajar di sini, Kami akan sangat kehilangan Ibu kalau ibu jauh
dari kami, dan sejumlah permohonan lainnya.
Aku tak tega. Pikiranku
kalut. Tak terasa, air mataku menitik. Kuurungkan niatku pulang ke rumah dan
melamar sebagai PNS. Kupeluk saja Ibu Fatimah yang baru saja berada di depanku.
Air mataku kian menderas. Ibu Fatimah bingung.
“Apa yang terjadi
Ren, hingga kau menangis?”
“Maafkan Reni Bu,
telah berbohong pada Ibu. Sebenarnya Reni meminta izin pulang karena Reni ingin
melamar sebagai PNS. Sejujurnya Reni betah mengajar di sini, Bu. Reni merasa
telah menyatu dan menjadi bagian dari di dusun ini.”
Ibu Fatimah terus berusaha
menenangkanku. Diusapnya hangat punggungku. Tiba-tiba bayang tubuh ibu tepat
berada di depanku. Ibu tersenyum bangga kemudian mengacungkan jempolnya ke
padaku. Seolah-olah ibu hidup.
Cerita
ini terinspirasi dari perjalanan seorang teman yang turut berpartisipasi
menjadi pengajar muda dalam Program Indonesia Mengajar
Saturday, February 07, 2015 | Labels: Cerpen | 0 Comments
ZIARAH KUBRO
Kamal
mengemas beberapa potong pakaiannya. Tak lupa, baju koko putih ia selipkan ke
dalam koper. Kamal ingin pulang ke Palembang. Seminggu lagi, bulan Ramadhan
tiba. Sudah menjadi kebiasaannya untuk melakukan ziarah ke makam kedua
orangtuanya sekaligus mengikuti tradisi ziarah
kubro1 di kota yang terkenal dengan sebutan Venesia dari Timur
itu.
Tak
berapa lama, perlahan pintu berderit. Seorang wanita mengenakan daster
bunga-bunga berjilbab ungu menuju ke arah Kamal. Setelah mendekat, duduk ia di
samping Kamal.
“Pa,
nanti pulangnya jangan lupa bawa pempek dan kerupuk khas Palembang ya!”
“Iya
Ma, pasti Papa bawakan. Bila perlu sama penjualnya.”
Keduanya
terbahak kecil – saling pandang, lalu seulas senyum merekah dari bibir kedua
insan itu.
***
Pesawat
yang membawa Kamal dari Soeta telah sampai di
Bandara Sultan Mahmoed Badarudin II Palembang.
Gegas Kamal merogoh ponselnya. Dihubunginya Bang Amin – kakak tertuanya.
Berkali-kali ditelepon, tapi tak ada jawabnya. Kamal mendesah panjang. Maka ia
memutuskan untuk menumpangi busway.
Melangkah Kamal menuju halte. Menunggu ia di sana. Beberapa menit kemudian, busway menghampirinya.
Satu persatu penumpang mulai melangkah masuk, mengisi kursi
yang kosong. Kamal memilih kursi yang ada di sudut. Ia ingin meregangkan otot,
menyandarkan punggungnya di kursi. Tak lama kemudian, supir mulai membawa busway dengan kecepatan sedang.
Perlahan
semakin perlahan, busway yang
ditumpangi Kamal melewati Masjid Agung Palembang. Mata Kamal tertuju pada puncak
menara masjid yang berbentuk runcing dengan hiasan jurai dan ukiran khas
Palembang yang ada di tiap dinding-dinding masjid. Dari jauh, masjid itu
kelihatan anggun nan megah. Tak lama setelah itu, busway melintas pelan di atas Jembatan Ampera. Sejurus kemudian,
Kamal melempar pandangnya ke luar. Dilihatnya kapal dan getek2 berjalan pelan membelah Sungai Musi. Hhmm,
indahnya sungaiku, gumam Kamal.
Lima
belas menit kemudian, Kamal sampai di depan lorong rumahnya. Beberapa pengemudi
ojek lalu mendekat. Kamal menganggukan kepala kepada salah satu pengemudi.
Duduk mantap ia di atas jok motor, lalu pengemudi ojek mulai menyalakan mesin
menuju rumah Kamal. Jalan yang dilaluinya kini tak ubahnya dengan setahun
silam. Rumah-rumah panggung berbahan kayu lama masih berdiri di sepanjang
jalan. Lapangan sepak bola dengan rumputnya yang mulai menghijau. Ada anak-anak
perempuan tengah bermain yeye3
di sana. Ada pula anak laki-laki yang bermain ekar4. Wajah-wajah mereka memancarkan rasa senang.
Kini,
Kamal telah sampai di depan rumahnya. Rumah Limas peninggalan orangtuanya itu
kelihatan tampak baru. Dindingnya dicat. Gentingnya diganti baru. Di rumah
Limas itu kini hanya ada Bang Amin dan anak istrinya. Sementara Nyimas, si
bungsu tinggal bersama suaminya di Kota Kembang. Perlahan ia menaiki anak
tangga. Lalu Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Tidak ada
sahutan dari dalam. Diketuk lagi agak keras. Tetap tidak ada
jawaban.
“Bang Amin! Bang Amin!” teriak Kamal di muka pintu.
Beberapa
saat kemudian, seorang bocah membukakan pintu. Kamal kaget, mulutnya menganga.
Bocah itu asing baginya. Sama sekali Kamal tidak mengenalinya. Sementara yang
ia tahu anak Bang Amin perempuan. Zakia namanya. Bertanya Kamal dalam hati.
Siapa bocah laki-laki ini? Mengapa ia yang membukakan pintu? Kemana Bang Amin
dan Mbak Maya?
“Silakan
masuk Om! Ayah lagi di kamar mandi!”
Ayah?
Kamal membatin.
Kamal
makin bingung. Keningnya berlipat tiga. Bocah itu gegas masuk ke dalam menemui
Bang Amin. Lalu Kamal melangkah ke ruang tamu. Duduk ia di kursi jati yang
dibeli almarhum ayah di Pasar Cinde.
“Kamaal?”
Kamal
menoleh ke arah yang memanggilnya.
“Kok,
Bang Amin nggak menjawab panggilan dariku?” keluh Kamal pada abangnya.
“Maaf
Mal, Abang tadi masih tidur. Semalam Abang habis mengantar Diana ke rumah
orangtuanya. Bapaknya sakit!” papar Bang Amin.
“Diana?
Siapa perempuan itu, Bang? Mana Mbak Maya dan Zakia?” selidik Kamal.
Bang
Amin terdiam sejenak. Pandangannya jauh menerawang.
“Abang
bercerai dengan Maya, Mal. Kemudian Abang menikah lagi dengan perempuan lain,”
jelas Bang Amin pelan.
“Jadi,
Diana itu nama istri baru Bang Amin dan bocah laki-laki yang membukakan pintu
tadi itu pasti anaknya?” kata Kamal dengan suara agak meninggi.
“Iya,
Mal. Maaf kalau Abang tidak berbicara kepadamu lagi. Abang takut kau marah.”
Kamal
bangkit dari duduknya. Ditinggalkannya Bang Amin. Menuju ia ke kamar.
Dikuncinya rapat-rapat pintu kamar. Ia malas berbicara kepada abangnya untuk
saat ini. Kemudian ia rebahkan tubuhnya ke kasur. Mendadak Kamal terbayang wajah
ayah dan ibunya. Semasa hidup, mendiang ibu selalu berpesan kepada ia dan
saudara lainnya untuk tidak bercerai. Ada gurat kecewa di wajah Kamal kini
melihat tingkah abangnya.
Ketika
mata Kamal hendak terpejam, tiba-tiba Maher Zain bersenandung merdu lewat Thank You Allahnya. Kamal tersentak.
Buru-buru dirogohnya hp yang ada di saku celananya. Nama Hasan tertera di sana. Lekas ia jawab.
“Wa’alaikum salam, San!
“Sudah
di Palembang, Mal?”
“Sudah,
San. Besok jadi kan, kita ikut ziarah kubro?”
“Jadi
dong! Nanti kita ketemuan di rumah panggung tempat biasa saja ya!”
“Ok!”
Klik.
Hasan mengakhiri pembicaraannya.
Sedari
SMA, Kamal berteman dengan Hasan. Hingga kini, hubungan mereka tetap terjalin
dengan baik. Hasan merupakan keturunan Arab. Ayahnya berdarah Arab. Sedangkan
ibunya asli Palembang. Bagi Kamal, Hasan lebih dari teman. Beberapa detik
kemudian, Kamal menguap untuk kesekian kalinya. Kantuk di matanya tak bisa
ditawar lagi. Lalu ia memejamkan matanya untuk beristirahat.
***
Selepas
menunaikan sholat subuh, Kamal bersiap pergi ke Tempat Pemakaman Umum Naga
Swidak bersama Bang Amin. Ia ingin melakukan ziarah ke makam kedua orangtuanya.
Ia sudah siap dengan peci putih dibalut baju koko putih dan sarung putih. Sebab
setelah itu, ia akan pergi mengikuti tradisi ziarah kubro. Bersegera Kamal
melangkah ke luar kamar. Di ruang tamu, Bang Amin telah menunggunya.
“Kita
makan dulu, Mal. Ini Abang sudah menyiapkan model iwak5 dan kue gandus6 untukmu!”
Kamal menganggukan kepala sambil menuju abangnya. Disantapnya
semangkuk model iwak dan sepotong kue gandus.
“Bang Amin ikut ziarah kubro hari ini?”
“Enggak Mal, di toko hanya ada Winda sendiri. Si Jamil hari
ini nggak masuk. Kasihan dia sendiri!”
“Oooo… Ya sudah.”
Tepat jam enam, mereka meninggalkan rumah, lalu menuju Naga
Swidak dengan mengendarai motor gede milik Bang Amin. Setiba di sana, mereka
menabur bunga, membaca surah yasin dan berdoa untuk kedua orangtuanya. Setelah
itu, Kamal meminta abangnya untuk mengantar ia ke pesisir Sungai Musi. Kamal
ingin menumpangi getek menuju Kampung Sungai Bayas yang ada di seberang ilir.
Kampung Sungai Bayas merupakan rute kali pertama dimulainya perjalanan ziarah
kubro.
Perlahan getek yang membawa Kamal mulai melaju pelan menuju
Kampung Sungai Bayas. Deburan riak menerpa getek yang ditumpanginya. Angin pagi
nan sejuk menampar wajahnya. Dilihatnya ibu-ibu paruh baya tengah mencuci
pakaian. Ada pula beberapa anak kecil sedang berenang. Tiba-tiba benak Kamal
melancong pada masa kecilnya. Ia ingat sekali kala itu ia berenang, memancing,
dan mencari remis bersama temannya di Sungai Musi. Kadang remis itu dibakar.
Kadang pula mereka jual. Ketika pulang larut sore, ayah telah siap dengan rotan
panjang. Kamal tersenyum tipis mengingat masa-masa itu.
Getek yang ditumpangi Kamal mulai merapat. Ia langsung menuju
Kampung Sungai Bayas. Umbul-umbul besar berwarna-wrni bertuliskan asma Allah
berjejer menyambut kedatangan Kamal. Ratusan bahkan ribuan laki-laki, baik tua
muda, anak-anak mulai menuju rumah panggung yang berada di tengah Kampung Sungai
Bayas. Hampir dari mereka mengenakan pakaian yang sama. Peci putih dan baju
koko putih dibalut sarung puith. Ada pula yang mengenakan gamis putih. Di rumah
panggung itu akan diadakan pembacaan burdah7 terlebih dahulu baru
kemudian diadakan arak-arakan menuju makam para ulama dan auliya Palembang.
Ketika hendak memasuki gerbang Kampung
Sungai Bayas, seorang menepuk pundak Kamal. Sontak Kamal kaget. Ditolehnya
orang yang menepuk itu.
“Hasan!” Kamal setengah berteriak.
Mereka lalu saling berjabat tangan. Berpelukan. Sudah setahun
mereka tidak bertemu. Rasa rindu kian menyerang mereka. Sambil menyusuri jalan
menuju rumah panggung, mereka bercerita tentang banyak hal. Tentang anak,
istri, pekerjaan, hingga cerita semasa SMA.
“Oh ya Mal, seminggu yang lalu aku bertemu dengan Reni di
Pasar 16 Ilir!”
“Sudahlah San, jangan kau sebut nama Reni lagi. Dia masa
laluku. Dia wanita yang telah melukai hatiku. Aku bosan mendengar namanya!”
Hasan terdiam. Ia tidak berani melanjutkan obrolan lagi.
Kini, langkah mereka semakin dekat dengan rumah panggung yang diklaim sebagai
salah satu rumah panggung tertua di Palembang itu. Ratusan bahkan ribuan orang
telah memadati halaman, garang8,
dan ruang tengah. Kamal dan Hasan mengambil tempat duduk di garang. Mereka ikut
membaca burdah bersama dengan yang lain.
Di tengah ruang rumah, ternyata telah berkumpul Sultan
Palembang, para ulama dan sesepuh, baik yang
datang dari Kota Palembang sendiri maupun dari Pulau Jawa, Kalimantan,
Singapura, Malaysia, Arab Saudi, Yaman, dan negara-negara lainnya. Untaian demi
untaian burdah semakin lama semakin terdengar merdu. Menyayat hati.
Tak lama setelah itu, pembacaan burdah pun usai. Acara
dilanjutkan dengan melakukan ziarah ke
makam ulama dan auliya Palembang. Di luar rumah, anak-anak dan pemuda pembawa
bendera dan umbul-umbul bertuliskan kalimat tauhid dan grup marawis bersiap
mengatur barisan guna memandu peziarah selama perjalanan. Pula dengan Laskar
Kesultanan Palembang Darussalam yang telah bersiap memayungi Sultan dan para
ulama serta tamu kehormatan dengan payung kesultanan.
Kali pertama, para peziarah
mengunjungi makam Pangeran Syarif Ali
Syeikh Abubakar9 dan keluarga di Boom Baru Kelurahan 5 Ilir
Palembang. Dari Kampung Sungai Bayas, para peziarah yang berjumlah ribuan itu
berjalan menuju Boom Baru. Walau jaraknya cukup jauh, namun tak menyurutkan
langkah para peziarah mengurungkan niatnya.
Selama perjalanan, untaian shalawat
dan qasidah tak henti-hentinya dilantunkan beriring tabuhan gendang. Para
pemuda dengan lincah menabuh gendang. Iramanya beraturan. Menyejukan kalbu.
Setengah jam kemudian, para peziarah
telah sampai di makam Pangeran Syarif Ali Syeikh Abubakar. Lalu acara diisi
dengan salam ziarah dan dzikir. Para peziarah menegadahkan tangan lalu
memanjatkan doa kepada sang Khalik untuk almarhum Pangeran Syarif Ali Syeikh
Abubakar. Sebelum meninggalkan makam, para peziarah membaca qosidah shofat li
lebih dahulu.
Dari sana, perlahan arak-arakan para
peziarah berjalan menuju ke komplek pemakaman Sultan Palembang beserta
keluarga. Komplek pemakaman Kawah Tengkurep, namanya. Letaknya di Kelurahan 3
Ilir Palembang. Di barisan terdepan anak-anak dan pemuda masih setia membawa
umbul-umbul berwarna-warni bertuliskan kalimat tauhid. Suara takbir, zikir dan
shalawat terus berkumandang diselingi dengan tabuhan gendang.
Sesampainya di sana, rombongan
peziarah disambut dengan suasana yang teduh amat teduh. Reremput dan pepohonan
yang tumbuh di sekitar makam bergoyang syahdu ikut pula menyambut kedatangan
para rombongan. Kamal dan Hasan duduk bersila di bawah pohon yang telah dialas
tikar. Salam ziarah, ziarah mukhtasor, dan doa berturut-turut dilakukan.
Di barisan terdepan, duduk seorang
ulama yang telah siap memimpin doa. Sejak tadi, Kamal tak henti menatap
wajahnya. Wajahnya bening bagai bulan purnama yang memantulkan sinar keemasan.
Ia ingin sekali memiliki wajah seperti ulama tersebut. Tapi… Ah, tidak mungkin
aku seperti beliau! Kamal bergumam. Buru-buru ia hapus angan itu.
Sesaat kemudian, acara di Komplek
pemakaman Kawah Tengkurep berakhir. Para peziarah kemudian bertolak menuju
Pemakaman Auliya Kambang Koci yang letaknya tak jauh dari Kawah Tengkurep. Di
pemakaman ini banyak makam para ulama dan keluarga keturunan Arab yang telah
berperan penting dalam penyebaran islam di Bumi Sriwijaya, bahkan di belahan
nusantara.
Kamal dan Hasan duduk beralas tikar
di samping salah satu makam. Mata kamal tertuju pada beberapa nisan yang ada di
sana. Dari bentuknya, nisan-nisan itu telah berumur ratusan tahun dan merupakan
peninggalan budaya masa lalu Palembang. Kamal mengelap salah satu nisan dengan
telapak tangannya.
“Mal
kamu tahu tidak, kalau para ulama dari Hadhramaut, Yaman
menyebut Kambang Koci sebagai Zanbal atau
pemakaman para wali di Kota Tarim, Hadhramaut-nya Palembang?”
“Yang benar, San?”
“Iya. Tak heran Mal, kalau di hari
biasa, di komplek makam ini juga sering dikunjungi peziarah dari berbagai
daerah di Indonesia, bahkan dari luar Indonesia,” jelas Hasan.
Kamal
memanggutkan kepalanya.
Tak
berapa lama, seorang ulama mulai memimpin salam
ziarah, pembacaan yasin, tahlil, doa, kasidah, dan talkin zikir. Kamal, Hasan,
dan peziarah yang lain ikut pula menyenandungkan bacaan demi bacaan itu.
Perlahan semakin perlahan matahari
mulai merangkak naik. Pada barisan depan, duduk seorang ulama bermunajat memimpin
doa untuk para auliya. Sesekali Kamal melirik jam yang melingkari pergelangan
tangannya. Jarum jamnya menunjukkan pukul 11.25 WIB. Beberapa saat kemudian,
kegiatan ziarah di Kambang Koci pun selesai. Dengan berakhirnya ziarah di
Kambang Koci, maka berakhir pula rangkaian ziarah kubro. Sebelum para peziarah
beranjak pulang, bergegas panitia menyiapkan nasi kebuli dan gulai kambing
sebagai santap siang.
Ketika
panitia hendak menyajikan menu makanan, Kamal bersegera pulang. Namun,
buru-buru ia ditahan Hasan.
“Mal,
kita makan dulu saja.Tidak baik, panitia telah menyediakan santap siang untuk
kita.”
“Tapi
San, aku mau membeli pempek dan kerupuk pesanan istriku!”
“Sudah,
nanti aku antar ke tokonya. Sebaiknya kita makan dulu!”
“Ya
sudahlah kalau begitu.”
Kamal,
Hasan, dan para peziarah lain mulai menyantap nasi
kebuli dan gulai
kambing. Rasanya yang lezat ditambah dengan acar, sambal, bawang goreng, dan
kismis membuat Kamal dan lainnya semakin lahap menyantapnya.
***
“Nggak
masuk dulu, San?”
“Terima
kasih sobat, aku harus buru-buru!”
“Ya
sudah kalau begitu.”
“Jangan
lupa telepon atau kirim sms kalau besok mau pulang ke Jakarta ya!”
“Oke!’
balas Kamal sambil mengacungkan jempol ke arah Hasan.
Kamal
menuju rumahnya sambil menjinjing barang belanja di kedua tangannya. Setiba di
rumah, ia melihat Aldi – anak tiri kakaknya tengah asyik menonton televisi.
Lekas ia menunaikan sholat zhuhur yang sebentar lagi waktunya habis. Ketika
Kamal tengah berdoa sehabis sholat, tiba-tiba ia dikagetkan suara ketukan
pintu. Dari sumber suara, Kamal menduga-duga itu suara perempuan. Beranjak ia
dari sajadah, lalu melangkah ia menuju pintu. Dilihatnya Aldi tertidur pulas di
depan tv. Wajar saja pintu nggak ada
yang buka, pikirnya. Memang sepulang membeli oleh-oleh tadi, Kamal sengaja
mengunci pintu. Takut pencuri atau orang yang tidak dikenal masuk ke rumah.
Ketika
pintu terbuka, seorang perempuan berusia 35 tahunan tengah hamil berada di
hadapannya. Tiba-tiba mereka sama-sama kaget. Lalu saling pandang, lama.
“Muhammad
Kamaludin?”
“Iya,
Saya Kamal. Bukankah kau Reni Mardiana?”
“Iyaa…
Saya Reni Mardiana!”
“Untuk
apa kau datang ke rumahku? Bukankah kau telah memilih pria lain dibanding aku
yang pemalu dan miskin!”
“Jadi…..?”
kata Reni dengan wajah tegang dan bingung sambil menunjuk Kamal.
“Jadi
apa?” suara Kamal agak meninggi.
“Ayo,
masuk dulu!” kata Kamal.
Reni
akhirnya masuk. Mereka sama-sama duduk, saling berhadapan.
“Mal,
sebenarnya aku ini istri dari Bang Amin, kakakmu?” kata Reni mulai membuka
suara.
Kamal
tersentak kaget, bahkan sangat kaget. Mulutnya menganga
sepersekian detik kemudian. Mendadak kepalanya pusing.
Keterangan:
1. Ziarah
yang dilakukan oleh kaum muslim laki-laki, baik kaum Adam keturunan Arab maupun
keturunan Palembang bahkan luar Palembang secara bersama-sama dengan
mengunjungi beberapa makam para ulama dan auliya yang ada di Palembang seminggu
sebelum memasuki bulan Ramadhan. Lazimnya diselingi dengan bacaan takbir,
dzikir, dan tabuhan gendang guna menyemarakan suasana. Para peziarah biasanya
menggunakan pakaian putih-putih, mulai dari peci, baju koko, hingga sarung.
2. Perahu
bermesin yang dapat ditumpangi oleh 2-10 orang
3. Lompat
tali
4. Kelereng
5. Kuliner
khas Palembang rasanya mirip tekwan tetapi bentuknya berbeda
6. Kuliner
khas Pa lembang yang terbuat dari tepung beras. Rasanya gurih.
7. Kumpulan qoshidah untuk memuji Nabi Muhammad Saw baik
kehidupan, tingkah laku, dan sebagainya
8. Teras
9. Seorang waliyullah yang ‘alim dan berwibawa yang ikut
menyebarkan Islam di Palembang, bahkan di tanah air. Pada masa kesultanan
Palembang, beliau pernah menduduki jabatan bendahara kesultanan.
Wednesday, January 28, 2015 | Labels: Cerpen | 0 Comments
Subscribe to:
Posts (Atom)
- “ngaBLOGburit”
- Acer Indonesia
- Acer Liquid Z320.
- Berkah Ramadhan
- Biaya Umroh
- Catatan Anak Bangsa
- Cerpen
- Daftar Umroh
- emas
- Haji Umroh
- Ibadah Umroh
- Jalan-Jalan
- Jelajah Gizi
- Kearifan Lokal Palembang
- Kontes Foto
- Kontes Menulis
- Motor
- Puasa
- Ramadhan
- Shooting Iklan
- Smartphone Acer
- Travel Umroh
- Umroh Murah
- Umroh Ramadhan
- Undian
- Unilever


