Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Si Putih untuk Umroh

Ramadhan Penuh Berkah Bersama Abutours & Travel


Aku mempercepat laju si putih menuju rumah. Si putih adalah panggilan untuk mobil kesayanganku. Aku tidak mau melewati momen berbuka puasa di awal Ramadhan bersama keluarga. Sesampai rumah, aku langsung menuju meja makan. Di sana sudah ada ibu dan Zaki - adikku. Tetiba aku kaget. Di atas meja makan tersedia kurma ajwa, kacang, kismis dan sebotol kecil bertuliskan air zam-zam.
“Dari mana semua ini, Bu?” tanyaku.
“Tadi si Alya – anak Pak RT nganterin oleh-oleh untuk kita. Pak RT dan istrinya kan pulang dari ibadah umroh,” balas ibu.
Aku mengangguk, mengiyakan jawaban ibu. Lalu, sekilas kutatap wajah ibu memandang oleh-oleh itu, lama.
“Bu, nggak apa ya Ilham jual si putih. Jadi, ibu bisa daftar umroh. Ibu kan rela menjual tanah warisan almarhum ayah demi membiayai kuliah Ilham?” kataku sontak.
“Jangan Nak, biarlah! Ibu doakan kau ada rejeki lain.”
Aku menghela napas, mengamini perkataan ibu. Beberapa saat kemudian, suara adzan menggema dari masjid. Gegas kami berbuka.

***
“Hei Ham, Lo tahu gak? Travel umroh AbuTour sedang ngadain lomba blog. Hadiahnya umroh!” beritahu Akmal – rekan kerja terbaikku.
“Ya, gue udah tahu. Tapi gimana mau ikutan, tugas dari si bos numpuk! Gimana keadaan ayahmu?” tanyaku.
“Buruan join! Besok sudah deadline lombanya! Ayahku masih terbaring sakit di rumah, Ham,” jawab Akmal lesu.
“Oh ya Mal, nanti temani aku ya?”
“Temani ke mana?”
“Temani aku ke pusat jual-beli mobil. Aku ingin menjual si putih biar ibu bisa umroh!”
“Serius? Kamu mau jual mobilmu?”
“Iya Mal, tak ada lagi yang bisa diharapkan selain menjualnya.”
Akmal tersenyum. Aku balas pula dengan senyuman.

***
Pagi ini, aku mengantar ibu pergi ke bazar sembako Ramadhan di lapangan kelurahan. Kebetulan hari ini aku libur bekerja. Di sana telah berkumpul teman-teman ibu, termasuk Ibu Sutini – istri Pak RT. Kulihat ibu Sutini sedang dikerumuni para temannya. Mereka sedang mendengar pengalaman Bu Sutini selama menunaikan ibadah umroh. Kulihat ibu-ibu sangat antusias dan wajahnya sumringah, termasuk ibuku yang baru bergabung. Kembali aku menangkap keinginan besar di wajah ibu untuk menginjakkan kaki ke Tanah Suci.

Tak berapa lama, ibu mengajak pulang duluan. Kubawa belanjaan ibu. Baru beberapa langkah kami pamit, hatiku panas. Salah seorang teman ibu menyindirnya. “Kapan ya, ibu yang dulu itu mau jual tanah lalu uangnya untuk umroh pergi beneran? Kok sampai sekarang gak jadi-jadi.”

Ingin aku berbalik badan untuk melawan. Tetapi aku sedang puasa. Manapula ibu melarangku. Ah, sudahlah!

Selama perjalanan menuju rumah, aku merasa bersalah. Semua ini gara-garaku. Aku adalah anak yang tidak mandiri. Tidak bisa membiayai kuliah sendiri. Coba saja ibu tidak menjual tanah warisan mendiang ayah demi kuliahku, pasti ibu telah menunaikan ibadah umroh. Apalagi di zaman sekarang ini banyak travel umroh yang menawarkan promo umroh murah, mulai dari umroh haji, umroh regular hingga umroh Ramadhan.

***
Ketika jam istirahat kerja, kuajak Akmal pergi ke pusat jual-beli mobil. Keputusanku untuk menjual si putih sudah bulat. Toh, untuk mobilitasku sehari-hari aku bisa menggantinya dengan sepeda motor. Kudatangi showroom pertama. Kami disambut ramah oleh seorang pria berdasi. Dandanannya rapi. Lantas kutawarkan mobilku. Si pria itu tertawa terbahak. Dia menolak. Terlalu tinggi harga yang kutawarkan, katanya. Kami gegas meninggalkan tempat itu.

Berikutnya kami mampir ke showroom mobil lain. Kali ini, kami disambut gadis muda. Seksi dan cantik. Wangi parfumnya. Ia kira kami hendak membeli mobil. Dia lalu meminta maaf. Lantas, seorang wanita paruh baya mengenakan baju warna merah senada dengan warna sepatunya menghampiri kami. Rupanya ia pemilik showroom ini. Bertanya ia kepada kami ada tujuan apa. Kujelaskan dengan pelan. Ia menerima kami dengan baik. Hingga saat negosiasi, ia kutolak mentah-mentah. Bagaimana tidak, ia mengajukan harga yang tidak masuk akal.

Si wanita itu menyuruhku untuk mengiklankannya lewat internet saja. Namun, aku tak mau. Aku takut tertipu. Kami lekas keluar showroom. Kulihat Akmal sudah semakin gusar. Ia memintaku untuk kembali ke kantor. Mengingat, waktu jam istirahat telah habis. Kuminta tolong kepada Akmal untuk menghampiri satu showroom lagi saja. Akmal mengangguk pelan.

Kini, aku masuk ke showroom terakhir. Aku berharap, mobilku laku terjual. Sehingga sindiran teman ibu berlari dari pikiranku. Seorang pria bertubuh tambun menerima kami. Akmal yang sejak tadi gusar terus memencet smartphonenya. Negosiasi berlangsung alot. Tapi aku memiliki keyakinan besar, si pria berkumis ini mau membeli si putih.

Tetiba aku kaget bercampur senang. Akmal menunjukkan smartphonenya kepadaku. Di layar sana, tertera jelas nama dan judul tulisanku dinobatkan sebagai pemenang utama lomba blog dan berhak menerima hadiah umroh. Aku langsung sujud syukur. Aku tidak menyangka tulisanku bakal menang. Pasalnya banyak tulisan yang lebih bagus. Lagipula, aku mempostingnya di detik-detik terakhir. 

Akmal segera menarik tanganku keluar showroom. Aku membatalkan untuk menjual si putih. Pemilik showroom melongo, heran bercampur bingung. Aku terus terbayang wajah ibu. Sungguh, ini merupakan berkah Ramadhan. Terima kasih banyak Yaa Alloh, akhirnya aku bisa memberikan kado umroh untuk ibu!” bisikku dalam hati. #LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah
#SemuaBisaUmroh.



Penulis sedang mengikuti Blog Contest Ramadhan  Bersama Abutours & Travel 

https://www.abutours.com/







Menanti Pak Salim


Hari ini, aku sungguh senang. Betapa tidak, Pak Salim akan datang ke rumah membawa bantuan untukku. Pak Salim adalah Kepala Desa kami. Sosoknya dekat dengan rakyat. Kedatangannya bukan karena ingin mencari simpati. Bukan pula meminta dukungan kepada keluargaku karena beberapa bulan lagi dia akan kembali maju mencalonkan kepala desa. Bukan, bukan itu maksudnya! Ini kunjungan rutinnya ke rumah.
Setiap tiga bulan sekali, dia tak pernah absen datang ke rumah menyalurkan bantuan dari Dinas Sosial untuk anak cacat sepertiku. Pak Salim pemimpin amanat. Tak pernah sekalipun ia menyunat bantuan yang diberikan.
Kulirik jam yang menggantung setia di dinding rumahku. Jarum pendeknya terus mendekati angka delapan. Bergegas kuminta emak untuk memandikanku. Aku tak mau jika Pak Salim datang, aku masih dengan keadaan wajah yang kusut.
Sehabis mandi, kuminta emak untuk membantuku mengenakan baju paling bagus yang kumiliki. Lalu mendorongku ke teras rumah untuk menyambut kedatangan Pak Salim. Kalau sudah begitu, aku akan duduk mantap di atas kursi roda sampai Pak Salim datang.
Tiba-tiba benakku melancong pada masa lima tahun silam – saat Pak Salim belum menakhodai desa kami. Setiap tiga bulan sekali, bapak harus membelah fajar melintasi sawah menembus tanjakan-turunan untuk mengambil bantuan ke balai desa. Bapak harus pagi-pagi sampai di sana. Karena setelah itu, bapak akan bekerja pada Tuan Amin. Aku kadang kasihan melihat bapak. Bapak kadang kehujanan. Kadang pula bajunya sampai kering di badan.
Pernah suatu hari, bapak memikul sekarung beras. Di tengah perjalanan, bapak terjatuh. Berasnya berhamburan. Untung banyak warga yang menolong. Kalau ingat itu, aku ingin menangis. Ingin pula mengutuk diri ini. Mengapa memiliki tangan dan kaki bengkok dan pendek sejak lahir. Mengapa mulut ini tak bisa berbicara seperti kebanyakan orang. Aku benar-benar manusia yang tak bisa diandalkan!
Aku tersentak kaget ketika emak menyentuh pundakku. Emak membawakanku sepiring nasi dan lauk seadanya.
“Tin, ayo makan dulu! Sejak pagi tadi kamu belum makan.” Kata emak setelah berdiri di sampingku.
Aku menggelengkan kepala, pelan.
“Ayo Tini, makanlah dulu! Sedikit saja. Nanti kamu masuk angin.”
Aku menggelengkan kepala dengan cepat. Lalu menjambak rambut, menggigit tangan. Emak terdiam. Begitulah kebiasaanku. Kalau tidak senang, maka apapun akan kulakukan. Aku hanya ingin makan bersama Pak Salim walau hanya sebentar.
Gegas emak berlalu dari pandanganku menuju dapur. Di dapur, emak tengah merebus singkong untuk disediakan pada Pak Salim. Sementara, di sini aku masih setia menanti Pak Salim. Aku yakin, dia akan datang sebentar lagi.
Tak lama kemudian, kudengar samar-samar deru suara sepeda motor dari ujung jalan. Aku berteriak girang. Itu pasti Pak Salim, pikirku. Jujur, sudah tak sabar aku melihat parasnya yang tampan. Tak sabar rambutku diusapnya penuh sayang. Tak sabar aku memakan singkong bersamanya. Namun, rasa senangku perlahan memudar saat kudapati yang mengendarai sepeda motor itu adalah Bik Renti – pemilik usaha penjualan bawang.
Bik Renti ke rumah hendak mengambil bawang yang telah dikupas emak kemarin sekaligus memberikan beberapa kilo lagi bawang yang hendak dikupas. Hampir separuh para ibu di desa ini mengambil upahan mengupas bawang pada Bik Renti. Lumayan, bisa menambahi kebutuhan sehari-hari, kata ibu-ibu di desa ini suatu ketika.

***
Suara adzan ashar dari corong musola berkumandang. Suara muadzin yang mengumandangkan adzan itu merdu, merdu sekali. Tapi, aku heran. Sampai detik ini, tak kujumpa wajah Pak Salim. Kuharap, wajah yang memancarkan terang sinar rembulan itu kini tengah menuju ke rumah. Membawa bantuan untukku.
Aku tahu karakter Pak Salim. Dia tidak akan bohong. Dia selalu menepati janji. Buktinya saja kata bapak. Satu hari setelah dia dilantik menjadi Kepala Desa, Pak Salim langsung merealisasikan untaian janji kampanyenya. Dia turun ke lapangan, melihat dan mendengarkan langsung aspirasi warganya. Dia menambal jalan yang berlubang, membangun jembatan, memperbaiki musola, dan melakukan gebrakan baru di bidang pertanian. Pak Salim memang tipikal pemimpin yang peduli rakyat.
Kulihat di ujung teras, emak hampir menyudahi tugasnya mengupas bawang. Sedang aku, masih tetap setia menanti Pak Salim. Aku yakin, Pak Salim pasti datang. Sejurus kemudian, emak mulai membereskan kulit-kulit bawang yang berserakan lalu bangkit masuk ke dalam rumah.

Setengah jam berlalu. Emak menyembul dari balik pintu. Emak menujuku membawa nasi dan segelas air minum. Perlahan emak semakin mendekat, mencoba membujukku.
“Tin, ayo kamu makan dulu! Kamu belum makan sejak tadi. Mungkin besok Pak Salim akan kemari!”
Aku terdiam sejenak.
“Ayo Tini, makanlah dulu! Nanti kamu masuk angin!”
Kali ini, aku tidak bisa membohongi emak dan diri sendiri. Perutku sudah amat lapar. Kuminta emak untuk menyuapiku. Seketika itu, gurat wajah emak berubah sumringah. Sembari disuapi emak, mataku tak henti melihat sepeda motor yang lewat di depan rumah. Tak sabar aku menunggu kedatangan Pak Salim. Aku yakin, dia akan datang membawa bantuan untukku.
“Habis makan ini, kamu mandi ya Tin! Setelah itu, kita tunggu lagi Pak Salim di sini,” kata emak dengan lembut.
Aku mengangguk. Emak tersenyum, melihatkan barisan giginya yang masih rapi.
Belum sempat emak menggiringku menuju kamar mandi, sayup-sayup terdengar suara bapak berteriak memanggil emak dari halaman rumah.
“Yati…. Yati…!”
Dari teras, kulihat bapak berlari-lari kecil menghampiri kami. Napasnya tersengal-sengal. Tiba-tiba emak tercenung, sementara aku menatap wajah bapak tak berkedip.
“Bapak kenapa bajunya berdarah?” tanya emak ingin tahu.
“Ini darah Pak Salim, Ti!” sahut Bapak.
 “Maksudnya, Pak?” jawab emak bingung mencerna kata-kata bapak.
“Setengah jam yang lalu, sepeda motor Pak Salim ditabrak mobil, Ti. Mobil yang menabraknya melarikan diri. Sembako yang dibawanya berserakan di jalan. Tadi Bapak membantu membopong tubuh Pak Salim ke dalam ambulans,” papar bapak.
“Jadi bagaimana sekarang kondisi Pak Salim, Pak?” buru emak.
Aku memasang wajah ingin tahu, pun dengan emak.
“Pak Salim meninggal dunia, Ti!” jawab bapak pelan sambil menundukan kepala.
Aku tersentak kaget. Hatiku seperti disambar petir, ditusuk ratusan jarum. Mataku tiba-tba basah, air mataku menetes perlahan. Tubuhku lemas, lemas sekali. Seketika kurasakan angin yang menggoyang pucuk-pucuk daun mangga dan reremput di halaman rumah ikut terdiam. Kulihat wajah emak yang mulai keriput ikut pula dibasahi air mata.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Sungguh, aku begitu kehilangan Pak Salim. Aku takut tidak ada lagi sosok yang dapat menggantikan kepemimpinan Pak Salim. Dia pemimpin amanat. Dekat dengan rakyat.
Buru-buru emak menenangkanku, lalu mendekapku erat.

Gang Sempit, Februari 2015

Cerita ini dibuat untuk mengenang 17 tahun wafatnya Ayahanda, Salim Wijaya.
 
Alhmarhum Ayah Gue





Pengabdian Diri


Malam semakin pekat. Angin berhembus pelan masuk dari celah bilik kamarku. Jarum jam yang menggantung di dinding terus berdetak. Kubiarkan lampu masih menyala. Aku tengah sibuk mengoreksi lembaran ujian muridku. Masih ada setumpuk yang belum dinilai. Kalau kubiarkan, esok pekerjaanku makin menumpuk. Aku tak mau menjadi pribadi yang sering menunda-nunda. Tak baik, pesan mendiang ibu saat aku masih duduk di bangku SMP.
Tak berapa lama, bunyi sms masuk. Kubuka lalu kubaca. Aku tersentak kaget. Pesan itu dari Bang Hadi, kakak laki-laki tertuaku. Isinya begini: Ren, Pemkot sedang membuka lowongan CPNS. Cepat kamu pulang. Urus berkas-berkasnya. Tinggalkanlah dusun kecil itu! Berulang kali kubaca pesan singkat itu. Antara senang dan sedih aku membacanya. Buru-buru aku menekan nomor telelpon Bang Hadi, lalu kuhubungi ia. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hanya gagal yang kuperoleh. Nomor Bang Hadi tak bisa kuhubungi. Mungkin Bang Hadi sudah tidur, pikirku. Kulanjutkan kembali mengoreksi kertas ulangan anak-anak seraya ditemani secangkir kopi khas dusun ini.
***
Aku berjalan gontai menuju gedung sekolah itu. Sebenarnya hari ini aku tak ingin masuk mengajar. Kepalaku sedang pusing. Di tambah lagi dengan pesan singkat dari Bang Hadi semalam, membuatku semakin pusing. Tapi hari ini jam pelajaranku padat. Aku tidak mau meninggalkan kewajibanku sebagai seorang pengajar – sebagaimana awal janjiku.
Dari jauh, kulihat beberapa murid menyusulku tergesa. Semakin dekat, wajah-wajah penuh asa itu semakin menyorotkan sinar ketulusan. Aku memasang senyum istimewa. Aku tak ingin menunjukan rasa sakit yang kurasa pada mereka. Setelah dekat, mereka berebutan menyalamiku. Aku balas mengelus rambut mereka satu persatu.
“Bu, hari ini Toni tidak masuk sekolah lagi,” kata Vita, murid kelas IV.
“Iya Bu, Toni tidak masuk sekolah lagi,” timpal Hani.
“Jadi, kemana Toni sudah tiga hari tidak masuk sekolah?” tanyaku bingung.
“Toni sakit, Bu!” sahut Deni, teman sebangku Toni.
“Ya sudah, nanti sepulang sekolah kita lihat Toni ke rumahnya,” jawabku bijak.
Gegas kami melangkah menuju ruang kelas. Suara lonceng menandakan jam pelajaran pertama baru saja berbunyi.
Sesuai janjiku kemarin, hari ini aku akan mengadakan ulangan matematika kepada murid kelas IV. Kuperintahkan kepada mereka untuk mengeluarkan selembar kertas. Lalu aku melangkah menuju papan tulis. Kutulis soal demi soal ulangan kali ini. Di belakang, sesekali kulihat para muridku sangat antusias menulis.
“Jawablah dengan benar ya anak-anak! Siapa yang mendapatkan nilai 10, Ibu akan kasih hadiah,” kataku setelah menuliskan lima soal ulangan kali ini.
Kemudian aku duduk di bangku seraya mengabsen murid-muridku. Setelah itu, kupandangi satu persatu wajah mereka. Ulan, gadis kecil berhidung bangir itu sangat antusias mengerjakan soal dariku. Sampai peluh di dahinya mengalir pun, tak ia gubris. Ari, bocah hitam manis yang bercita-cita menjadi Menteri Pertanian itu, tangannya tak henti menari-narikan penanya di atas kertas. Hani, gadis kecil berambut panjang itu tampak gelisah. Tapi kutahu, ia mampu untuk mengerjakan soal yang kuberikan. Ia sebetulnya anak yang pandai.
Tiba-tiba hp dari saku seragamku berbunyi – menandakan ada pesan masuk. Lekas kuambil, lalu kubuka. Rupanya sms dari Ratna, teman kuliahku dulu. Isi smsnya sama yang dikirim Bang Hadi semalam; tentang penerimaan CPNS. Aku terdiam sejenak setelah membaca pesan singkat itu. Kemudian, kubalas sms dari Ratna.
Jujur, sebenarnya terbersit di hati ini untuk mengikuti tes CPNS. Tapi, aku sudah betah mengajar di dusun ini. Aku suka semangat belajar anak-anak di sini. Semangat mereka menyala-nyala seperti api yang membakar kayu bakar. Manapula aku tak mau mengingkari janji pada Bu Fatimah, Ibu Kepala Sekolah. Aku telah diamanatkannya menjadi wali kelas merangkap guru matematika, kerajinan tangan dan kesenian untuk kelas I sampai VI. Seketika bingung menjalar ke seluruh tubuhku.
 “Bu, Ulan sudah mengerjakan semua soalnya!”
Mendadak suara Ulan menyentakan lamunku.
“Iya, Lan. Sini Ibu lihat,” sahutku gelagapan.
Sesaat kemudian, terdengar suara lonceng dipukul. Menandakan pelajaran matematika telah usai. Buru-buru anak-anak mengumpulkan jawabannya. Kuperiksa sepintas jawaban dari mereka. Aku tersenyum bangga. Semua muridku mampu menyelesaikan soal yang kuberikan dengan baik. Bersegera kutinggalkan kelas yang memiliki banyak prestasi ini, lalu aku melangkah ke kelas lain.
***
Suara lonceng dipukul berkali-kali – menunjukan waktu jam pulang tiba. Murid-murid mulai berdoa, menyalamiku, kemudian menghambur pulang. Saat hendak berjalan menuju gerbang, kulihat beberapa murid kelas empat masih berkumpul di sana. Entah apa yang tengah mereka tunggu. Ketika aku melintas tepat di depan mereka, Hani menghentikan langkahku. Aku kaget.
“Buuu, jadi kan kita hari ini ke rumah Toni?” tanyanya lembut.
“Ke rumah Toni?”
“Iya, kata Ibu tadi pagi kita akan ke rumah Toni!”
Astaghfirullah, Ibu lupa! Terima kasih ya sayang, telah mengingatkan Ibu. Ayo, sekarang kita ke rumah Toni!”
Deni, si ketua kelas menakhodai jalan kami. Ia berada di depan, sebagai petunjuk arah. Kebetulan rumah Deni tak jauh dari rumah Toni. Jadi ia tahu persis letak rumah Toni. Beberapa menit kemudian, aku terkejut. Jalanan menuju rumah Toni penuh dengan lumpur. Sejurus kemudian rasa jijik menyerangku. Namun tidak bagi anak-anak muridku. Dengan sigap, mereka melepas sepatunya. Lalu menancapkan kakinya ke dalam lumpur.
Tiba-tiba air mata ini ingin tumpah, namun kucoba untuk menahannya. Ya Allah, begitu tinggi mereka menjunjug nilai persahabatan, bisikku dalam hati. Gegas kuusir rasa jijik yang menyelinap. Lalu kubuka sepatuku. Kucelupkan kakiku pada lumpur kotor itu. Aku tak mau membuat murid-muridku kecewa. Aku ingin membuat mereka selalu tersenyum, tersenyum, dan tersenyum.
Tak berapa lama, kami sampai di rumah Toni. Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan kami. Rambutnya panjang terurai. Ia tersenyum lembut.
“Silakan masuk, Bu!” katanya ramah.
Kami semua masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, kulihat Toni tengah terbaring lemah di atas kasur. Ketika kuhampiri, Toni masih sempat menyalamiku. Beberapa menit kemudian, Maher Zain bersenandung merdu lewat Thank You Allahnya. Ada panggilan masuk. Kurogoh ponselku. Nama Bang Hadi tertera di sana. Lekas kujawab.
“Wa’alaikum salam, Bang!”
“Ren, pokoknya besok kamu harus pulang! Penerimaan CPNS tinggal beberapa hari lagi.”
“Tapi Bang… Reni sudah betah mengajar di sini Reni,” potongku cepat.
“Terserah! Kalau kamu ingin membuat Ayah dan Ibu bahagia di alam kubur, cepat kamu lamar!” katanya ketus.
Klik. Bang Hadi mengakhiri pembicaraannya. Aku mendesah. Aku tahu Bang Hadi sangat menyayangiku. Ia tak mau melihat adik-adiknya mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai menurutnya. Tapi bagiku, mengajar di dusun ini sama saja mengajar di kota. Justru di sini, aku banyak menemukan nuansa berbeda yang tak kudapat di kota. Aku banyak belajar tentang segala hal di sini. Belajar tentang arti bersyukur, semangat hidup, persahabatan, kerukunan, gotong royong, dan masih banyak lagi.
***
Malam ini, aku mulai mengemas beberapa pakaianku. Esok aku akan pulang ke kota dan melamar sebagai PNS. Sehabis ashar tadi, aku telah meminta izin pada Ibu Fatimah, dan beliau pun memberikan izin. Terpaksa aku berbohong padanya. Kualasakan Bang Hadi diopname di rumah sakit. Aku yakin, kalau aku berkata jujur, di wajahnya akan terbit gurat kecewa. Sepertinya beliau tak mau kehilanganku.
Tak lama, pintu kamarku diketuk. Gegas kubuka. Di balik pintu telah berdiri Ibu Fatimah.
“Ya Bu, ada apa?”
“Itu di luar Ren, ada yang mengaku sebagai orangtua dari Toni, murid kelas empat. Dia ingin bertemu denganmu.”
Aku ternganga, bibirku membulat membentuk huruf O.
Selama menetap di dusun ini, memang aku tinggal serumah dengan Ibu Fatimah. Beliau telah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Gegas aku dan Ibu Fatimah melangkah ke ruang tamu. Dan benar, di sana telah duduk Ibu Toni. Tampaknya ia gelisah. Kulihat berulang kali dia meremas tangan dan menggigit bibirnya. Ketika ia menatap ke arahku, buru-buru ia mendekatiku.
“Buu… Toni Bu…,” desisnya.
“Apa yang terjadi, Bu?” tanyaku ingin tahu.
“Badan Toni semakin panas saja, Bu. Dia selalu memanggil nama Ibu Reni.”
Malam itu juga, aku dan Ibu Fatimah langsung menuju rumah Toni. Di tengah perjalanan, air mata Ibu Toni tak henti mengalir. Sesekali kudengar isaknya. Namun aku berusaha menenangkannya.
***
Sehabis menunaikan sholat subuh, aku mulai bersiap-siap. Kuhadapkan wajahku pada cermin. Bersolek aku dan memasang jilbab. Sesaat kemudian, wajah satu per satu anak-anak muridku menyelinap di pelupuk mata. Wajah-wajah penuh semangat itu terus membayangiku. Mendadak pikiranku hinggap pada perbincangan dengan mereka dua bulan yang lalu. Saat kutanya bagaimana kalau aku tak mengajar lagi di dusun ini. Hampir dari raut muka mereka menunduk lesu. Mereka seperti bunga layu yang tak pernah disiram.  
Kutepis bayangan wajah anak-anak, bersegera aku melangkah keluar kamar. Di ruang tamu, Ibu Fatimah telah menungguku.
“Bu, Reni permisi pulang ke kota ya!”
“Iya Ren. Hati-hati di jalan dan jaga diri baik-baik!”
Aku menuju ke luar rumah dibimbing Ibu Fatimah. Duduk kami di teras rumah sembari menanti kedatangan Pak Din. Pak Din akan mengantarkanku ke perusahaan travel yang ada di kecamatan dengan sepeda motornya. Ketika Ibu Fatimah bangkit sebentar hendak mengambil sebungkus biskuit ke dalam rumah, kembali pikiranku dipenuhi dengan wajah-wajah anak muridku. Seolah-olah mereka berbicara, duduk memohon kepadaku. Ibu jangan pergi, Ibu tetap mengajar di sini, Kami akan sangat kehilangan Ibu kalau ibu jauh dari kami, dan sejumlah permohonan lainnya.
Aku tak tega. Pikiranku kalut. Tak terasa, air mataku menitik. Kuurungkan niatku pulang ke rumah dan melamar sebagai PNS. Kupeluk saja Ibu Fatimah yang baru saja berada di depanku. Air mataku kian menderas. Ibu Fatimah bingung.
“Apa yang terjadi Ren, hingga kau menangis?”
“Maafkan Reni Bu, telah berbohong pada Ibu. Sebenarnya Reni meminta izin pulang karena Reni ingin melamar sebagai PNS. Sejujurnya Reni betah mengajar di sini, Bu. Reni merasa telah menyatu dan menjadi bagian dari di dusun ini.”
Ibu Fatimah terus berusaha menenangkanku. Diusapnya hangat punggungku. Tiba-tiba bayang tubuh ibu tepat berada di depanku. Ibu tersenyum bangga kemudian mengacungkan jempolnya ke padaku. Seolah-olah ibu hidup. 

Cerita ini terinspirasi dari perjalanan seorang teman yang turut berpartisipasi menjadi pengajar muda dalam Program Indonesia Mengajar


ZIARAH KUBRO


Kamal mengemas beberapa potong pakaiannya. Tak lupa, baju koko putih ia selipkan ke dalam koper. Kamal ingin pulang ke Palembang. Seminggu lagi, bulan Ramadhan tiba. Sudah menjadi kebiasaannya untuk melakukan ziarah ke makam kedua orangtuanya sekaligus mengikuti tradisi ziarah kubro1 di kota yang terkenal dengan sebutan Venesia dari Timur itu.
Tak berapa lama, perlahan pintu berderit. Seorang wanita mengenakan daster bunga-bunga berjilbab ungu menuju ke arah Kamal. Setelah mendekat, duduk ia di samping Kamal.
“Pa, nanti pulangnya jangan lupa bawa pempek dan kerupuk khas Palembang ya!”
“Iya Ma, pasti Papa bawakan. Bila perlu sama penjualnya.”
Keduanya terbahak kecil – saling pandang, lalu seulas senyum merekah dari bibir kedua insan itu.
***
Pesawat yang membawa Kamal dari Soeta telah sampai di Bandara Sultan Mahmoed Badarudin II Palembang. Gegas Kamal merogoh ponselnya. Dihubunginya Bang Amin – kakak tertuanya. Berkali-kali ditelepon, tapi tak ada jawabnya. Kamal mendesah panjang. Maka ia memutuskan untuk menumpangi busway. Melangkah Kamal menuju halte. Menunggu ia di sana. Beberapa menit kemudian, busway menghampirinya.
Satu persatu penumpang mulai melangkah masuk, mengisi kursi yang kosong. Kamal memilih kursi yang ada di sudut. Ia ingin meregangkan otot, menyandarkan punggungnya di kursi. Tak lama kemudian, supir mulai membawa busway dengan kecepatan sedang.
Perlahan semakin perlahan, busway yang ditumpangi Kamal melewati Masjid Agung Palembang. Mata Kamal tertuju pada puncak menara masjid yang berbentuk runcing dengan hiasan jurai dan ukiran khas Palembang yang ada di tiap dinding-dinding masjid. Dari jauh, masjid itu kelihatan anggun nan megah. Tak lama setelah itu, busway melintas pelan di atas Jembatan Ampera. Sejurus kemudian, Kamal melempar pandangnya ke luar. Dilihatnya kapal dan getek2 berjalan pelan membelah Sungai Musi. Hhmm, indahnya sungaiku, gumam Kamal. 
Lima belas menit kemudian, Kamal sampai di depan lorong rumahnya. Beberapa pengemudi ojek lalu mendekat. Kamal menganggukan kepala kepada salah satu pengemudi. Duduk mantap ia di atas jok motor, lalu pengemudi ojek mulai menyalakan mesin menuju rumah Kamal. Jalan yang dilaluinya kini tak ubahnya dengan setahun silam. Rumah-rumah panggung berbahan kayu lama masih berdiri di sepanjang jalan. Lapangan sepak bola dengan rumputnya yang mulai menghijau. Ada anak-anak perempuan tengah bermain yeye3 di sana. Ada pula anak laki-laki yang bermain ekar4. Wajah-wajah mereka memancarkan rasa senang.
Kini, Kamal telah sampai di depan rumahnya. Rumah Limas peninggalan orangtuanya itu kelihatan tampak baru. Dindingnya dicat. Gentingnya diganti baru. Di rumah Limas itu kini hanya ada Bang Amin dan anak istrinya. Sementara Nyimas, si bungsu tinggal bersama suaminya di Kota Kembang. Perlahan ia menaiki anak tangga. Lalu Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Tidak ada sahutan dari dalam. Diketuk lagi agak keras. Tetap tidak ada jawaban.
“Bang Amin! Bang Amin!” teriak Kamal di muka pintu.
Beberapa saat kemudian, seorang bocah membukakan pintu. Kamal kaget, mulutnya menganga. Bocah itu asing baginya. Sama sekali Kamal tidak mengenalinya. Sementara yang ia tahu anak Bang Amin perempuan. Zakia namanya. Bertanya Kamal dalam hati. Siapa bocah laki-laki ini? Mengapa ia yang membukakan pintu? Kemana Bang Amin dan Mbak Maya?
“Silakan masuk Om! Ayah lagi di kamar mandi!”
Ayah? Kamal membatin.
Kamal makin bingung. Keningnya berlipat tiga. Bocah itu gegas masuk ke dalam menemui Bang Amin. Lalu Kamal melangkah ke ruang tamu. Duduk ia di kursi jati yang dibeli almarhum ayah di Pasar Cinde.
“Kamaal?”
Kamal menoleh ke arah yang memanggilnya.
“Kok, Bang Amin nggak menjawab panggilan dariku?” keluh Kamal pada abangnya.
“Maaf Mal, Abang tadi masih tidur. Semalam Abang habis mengantar Diana ke rumah orangtuanya. Bapaknya sakit!” papar Bang Amin.
“Diana? Siapa perempuan itu, Bang? Mana Mbak Maya dan Zakia?” selidik Kamal.
Bang Amin terdiam sejenak. Pandangannya jauh menerawang.
“Abang bercerai dengan Maya, Mal. Kemudian Abang menikah lagi dengan perempuan lain,” jelas Bang Amin pelan.
“Jadi, Diana itu nama istri baru Bang Amin dan bocah laki-laki yang membukakan pintu tadi itu pasti anaknya?” kata Kamal dengan suara agak meninggi.
“Iya, Mal. Maaf kalau Abang tidak berbicara kepadamu lagi. Abang takut kau marah.”
Kamal bangkit dari duduknya. Ditinggalkannya Bang Amin. Menuju ia ke kamar. Dikuncinya rapat-rapat pintu kamar. Ia malas berbicara kepada abangnya untuk saat ini. Kemudian ia rebahkan tubuhnya ke kasur. Mendadak Kamal terbayang wajah ayah dan ibunya. Semasa hidup, mendiang ibu selalu berpesan kepada ia dan saudara lainnya untuk tidak bercerai. Ada gurat kecewa di wajah Kamal kini melihat tingkah abangnya.
Ketika mata Kamal hendak terpejam, tiba-tiba Maher Zain bersenandung merdu lewat Thank You Allahnya. Kamal tersentak. Buru-buru dirogohnya hp yang ada di saku celananya. Nama Hasan tertera di sana. Lekas ia jawab.
“Wa’alaikum salam, San!
“Sudah di Palembang, Mal?”
“Sudah, San. Besok jadi kan, kita ikut ziarah kubro?”
“Jadi dong! Nanti kita ketemuan di rumah panggung tempat biasa saja ya!”
“Ok!”
Klik. Hasan mengakhiri pembicaraannya.
Sedari SMA, Kamal berteman dengan Hasan. Hingga kini, hubungan mereka tetap terjalin dengan baik. Hasan merupakan keturunan Arab. Ayahnya berdarah Arab. Sedangkan ibunya asli Palembang. Bagi Kamal, Hasan lebih dari teman. Beberapa detik kemudian, Kamal menguap untuk kesekian kalinya. Kantuk di matanya tak bisa ditawar lagi. Lalu ia memejamkan matanya untuk beristirahat.

***
Selepas menunaikan sholat subuh, Kamal bersiap pergi ke Tempat Pemakaman Umum Naga Swidak bersama Bang Amin. Ia ingin melakukan ziarah ke makam kedua orangtuanya. Ia sudah siap dengan peci putih dibalut baju koko putih dan sarung putih. Sebab setelah itu, ia akan pergi mengikuti tradisi ziarah kubro. Bersegera Kamal melangkah ke luar kamar. Di ruang tamu, Bang Amin telah menunggunya.
“Kita makan dulu, Mal. Ini Abang sudah menyiapkan model iwak5 dan kue gandus6 untukmu!”
Kamal menganggukan kepala sambil menuju abangnya. Disantapnya semangkuk model iwak dan sepotong kue gandus.
“Bang Amin ikut ziarah kubro hari ini?”
“Enggak Mal, di toko hanya ada Winda sendiri. Si Jamil hari ini nggak masuk. Kasihan dia sendiri!”
 “Oooo… Ya sudah.”
Tepat jam enam, mereka meninggalkan rumah, lalu menuju Naga Swidak dengan mengendarai motor gede milik Bang Amin. Setiba di sana, mereka menabur bunga, membaca surah yasin dan berdoa untuk kedua orangtuanya. Setelah itu, Kamal meminta abangnya untuk mengantar ia ke pesisir Sungai Musi. Kamal ingin menumpangi getek menuju Kampung Sungai Bayas yang ada di seberang ilir. Kampung Sungai Bayas merupakan rute kali pertama dimulainya perjalanan ziarah kubro.
Perlahan getek yang membawa Kamal mulai melaju pelan menuju Kampung Sungai Bayas. Deburan riak menerpa getek yang ditumpanginya. Angin pagi nan sejuk menampar wajahnya. Dilihatnya ibu-ibu paruh baya tengah mencuci pakaian. Ada pula beberapa anak kecil sedang berenang. Tiba-tiba benak Kamal melancong pada masa kecilnya. Ia ingat sekali kala itu ia berenang, memancing, dan mencari remis bersama temannya di Sungai Musi. Kadang remis itu dibakar. Kadang pula mereka jual. Ketika pulang larut sore, ayah telah siap dengan rotan panjang. Kamal tersenyum tipis mengingat masa-masa itu.
Getek yang ditumpangi Kamal mulai merapat. Ia langsung menuju Kampung Sungai Bayas. Umbul-umbul besar berwarna-wrni bertuliskan asma Allah berjejer menyambut kedatangan Kamal. Ratusan bahkan ribuan laki-laki, baik tua muda, anak-anak mulai menuju rumah panggung yang berada di tengah Kampung Sungai Bayas. Hampir dari mereka mengenakan pakaian yang sama. Peci putih dan baju koko putih dibalut sarung puith. Ada pula yang mengenakan gamis putih. Di rumah panggung itu akan diadakan pembacaan burdah7 terlebih dahulu baru kemudian diadakan arak-arakan menuju makam para ulama dan auliya Palembang.
Ketika hendak memasuki gerbang Kampung Sungai Bayas, seorang menepuk pundak Kamal. Sontak Kamal kaget. Ditolehnya orang yang menepuk itu.
“Hasan!” Kamal setengah berteriak.
Mereka lalu saling berjabat tangan. Berpelukan. Sudah setahun mereka tidak bertemu. Rasa rindu kian menyerang mereka. Sambil menyusuri jalan menuju rumah panggung, mereka bercerita tentang banyak hal. Tentang anak, istri, pekerjaan, hingga cerita semasa SMA.
“Oh ya Mal, seminggu yang lalu aku bertemu dengan Reni di Pasar 16 Ilir!”
“Sudahlah San, jangan kau sebut nama Reni lagi. Dia masa laluku. Dia wanita yang telah melukai hatiku. Aku bosan mendengar namanya!”
Hasan terdiam. Ia tidak berani melanjutkan obrolan lagi. Kini, langkah mereka semakin dekat dengan rumah panggung yang diklaim sebagai salah satu rumah panggung tertua di Palembang itu. Ratusan bahkan ribuan orang telah memadati halaman, garang8, dan ruang tengah. Kamal dan Hasan mengambil tempat duduk di garang. Mereka ikut membaca burdah bersama dengan yang lain.
Di tengah ruang rumah, ternyata telah berkumpul Sultan Palembang, para ulama dan sesepuh, baik yang datang dari Kota Palembang sendiri maupun dari Pulau Jawa, Kalimantan, Singapura, Malaysia, Arab Saudi, Yaman, dan negara-negara lainnya. Untaian demi untaian burdah semakin lama semakin terdengar merdu. Menyayat hati.
Tak lama setelah itu, pembacaan burdah pun usai. Acara dilanjutkan dengan melakukan ziarah ke makam ulama dan auliya Palembang. Di luar rumah, anak-anak dan pemuda pembawa bendera dan umbul-umbul bertuliskan kalimat tauhid dan grup marawis bersiap mengatur barisan guna memandu peziarah selama perjalanan. Pula dengan Laskar Kesultanan Palembang Darussalam yang telah bersiap memayungi Sultan dan para ulama serta tamu kehormatan dengan payung kesultanan.
Kali pertama, para peziarah mengunjungi makam Pangeran Syarif Ali Syeikh Abubakar9 dan keluarga di Boom Baru Kelurahan 5 Ilir Palembang. Dari Kampung Sungai Bayas, para peziarah yang berjumlah ribuan itu berjalan menuju Boom Baru. Walau jaraknya cukup jauh, namun tak menyurutkan langkah para peziarah mengurungkan niatnya.
Selama perjalanan, untaian shalawat dan qasidah tak henti-hentinya dilantunkan beriring tabuhan gendang. Para pemuda dengan lincah menabuh gendang. Iramanya beraturan. Menyejukan kalbu.
Setengah jam kemudian, para peziarah telah sampai di makam Pangeran Syarif Ali Syeikh Abubakar. Lalu acara diisi dengan salam ziarah dan dzikir. Para peziarah menegadahkan tangan lalu memanjatkan doa kepada sang Khalik untuk almarhum Pangeran Syarif Ali Syeikh Abubakar. Sebelum meninggalkan makam, para peziarah membaca qosidah shofat li lebih dahulu.
Dari sana, perlahan arak-arakan para peziarah berjalan menuju ke komplek pemakaman Sultan Palembang beserta keluarga. Komplek pemakaman Kawah Tengkurep, namanya. Letaknya di Kelurahan 3 Ilir Palembang. Di barisan terdepan anak-anak dan pemuda masih setia membawa umbul-umbul berwarna-warni bertuliskan kalimat tauhid. Suara takbir, zikir dan shalawat terus berkumandang diselingi dengan tabuhan gendang.
Sesampainya di sana, rombongan peziarah disambut dengan suasana yang teduh amat teduh. Reremput dan pepohonan yang tumbuh di sekitar makam bergoyang syahdu ikut pula menyambut kedatangan para rombongan. Kamal dan Hasan duduk bersila di bawah pohon yang telah dialas tikar. Salam ziarah, ziarah mukhtasor, dan doa berturut-turut dilakukan.
Di barisan terdepan, duduk seorang ulama yang telah siap memimpin doa. Sejak tadi, Kamal tak henti menatap wajahnya. Wajahnya bening bagai bulan purnama yang memantulkan sinar keemasan. Ia ingin sekali memiliki wajah seperti ulama tersebut. Tapi… Ah, tidak mungkin aku seperti beliau! Kamal bergumam. Buru-buru ia hapus angan itu.
Sesaat kemudian, acara di Komplek pemakaman Kawah Tengkurep berakhir. Para peziarah kemudian bertolak menuju Pemakaman Auliya Kambang Koci yang letaknya tak jauh dari Kawah Tengkurep. Di pemakaman ini banyak makam para ulama dan keluarga keturunan Arab yang telah berperan penting dalam penyebaran islam di Bumi Sriwijaya, bahkan di belahan nusantara.
Kamal dan Hasan duduk beralas tikar di samping salah satu makam. Mata kamal tertuju pada beberapa nisan yang ada di sana. Dari bentuknya, nisan-nisan itu telah berumur ratusan tahun dan merupakan peninggalan budaya masa lalu Palembang. Kamal mengelap salah satu nisan dengan telapak tangannya.
“Mal kamu tahu tidak, kalau para ulama dari Hadhramaut, Yaman menyebut Kambang Koci sebagai Zanbal atau pemakaman para wali di Kota Tarim, Hadhramaut-nya Palembang?”
“Yang benar, San?”
“Iya. Tak heran Mal, kalau di hari biasa, di komplek makam ini juga sering dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar Indonesia,” jelas Hasan.
Kamal memanggutkan kepalanya.
Tak berapa lama, seorang ulama mulai memimpin salam ziarah, pembacaan yasin, tahlil, doa, kasidah, dan talkin zikir. Kamal, Hasan, dan peziarah yang lain ikut pula menyenandungkan bacaan demi bacaan itu.
Perlahan semakin perlahan matahari mulai merangkak naik. Pada barisan depan, duduk seorang ulama bermunajat memimpin doa untuk para auliya. Sesekali Kamal melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. Jarum jamnya menunjukkan pukul 11.25 WIB. Beberapa saat kemudian, kegiatan ziarah di Kambang Koci pun selesai. Dengan berakhirnya ziarah di Kambang Koci, maka berakhir pula rangkaian ziarah kubro. Sebelum para peziarah beranjak pulang, bergegas panitia menyiapkan nasi kebuli dan gulai kambing sebagai santap siang.
Ketika panitia hendak menyajikan menu makanan, Kamal bersegera pulang. Namun, buru-buru ia ditahan Hasan.
“Mal, kita makan dulu saja.Tidak baik, panitia telah menyediakan santap siang untuk kita.”
“Tapi San, aku mau membeli pempek dan kerupuk pesanan istriku!”
“Sudah, nanti aku antar ke tokonya. Sebaiknya kita makan dulu!”
“Ya sudahlah kalau begitu.”
Kamal, Hasan, dan para peziarah lain mulai menyantap nasi kebuli dan gulai kambing. Rasanya yang lezat ditambah dengan acar, sambal, bawang goreng, dan kismis membuat Kamal dan lainnya semakin lahap menyantapnya.

***
“Nggak masuk dulu, San?”
“Terima kasih sobat, aku harus buru-buru!”
“Ya sudah kalau begitu.”
“Jangan lupa telepon atau kirim sms kalau besok mau pulang ke Jakarta ya!”
“Oke!’ balas Kamal sambil mengacungkan jempol ke arah Hasan.
Kamal menuju rumahnya sambil menjinjing barang belanja di kedua tangannya. Setiba di rumah, ia melihat Aldi – anak tiri kakaknya tengah asyik menonton televisi. Lekas ia menunaikan sholat zhuhur yang sebentar lagi waktunya habis. Ketika Kamal tengah berdoa sehabis sholat, tiba-tiba ia dikagetkan suara ketukan pintu. Dari sumber suara, Kamal menduga-duga itu suara perempuan. Beranjak ia dari sajadah, lalu melangkah ia menuju pintu. Dilihatnya Aldi tertidur pulas di depan tv.  Wajar saja pintu nggak ada yang buka, pikirnya. Memang sepulang membeli oleh-oleh tadi, Kamal sengaja mengunci pintu. Takut pencuri atau orang yang tidak dikenal masuk ke rumah.
Ketika pintu terbuka, seorang perempuan berusia 35 tahunan tengah hamil berada di hadapannya. Tiba-tiba mereka sama-sama kaget. Lalu saling pandang, lama.
“Muhammad Kamaludin?”
“Iya, Saya Kamal. Bukankah kau Reni Mardiana?”
“Iyaa… Saya Reni Mardiana!”
“Untuk apa kau datang ke rumahku? Bukankah kau telah memilih pria lain dibanding aku yang pemalu dan miskin!”
“Jadi…..?” kata Reni dengan wajah tegang dan bingung sambil menunjuk Kamal.
“Jadi apa?” suara Kamal agak meninggi.
“Ayo, masuk dulu!” kata Kamal.
Reni akhirnya masuk. Mereka sama-sama duduk, saling berhadapan.
“Mal, sebenarnya aku ini istri dari Bang Amin, kakakmu?” kata Reni mulai membuka suara.
Kamal tersentak kaget, bahkan sangat kaget. Mulutnya menganga sepersekian detik kemudian. Mendadak kepalanya pusing.

Keterangan:
1.  Ziarah yang dilakukan oleh kaum muslim laki-laki, baik kaum Adam keturunan Arab maupun keturunan Palembang bahkan luar Palembang secara bersama-sama dengan mengunjungi beberapa makam para ulama dan auliya yang ada di Palembang seminggu sebelum memasuki bulan Ramadhan. Lazimnya diselingi dengan bacaan takbir, dzikir, dan tabuhan gendang guna menyemarakan suasana. Para peziarah biasanya menggunakan pakaian putih-putih, mulai dari peci, baju koko, hingga sarung.
2.   Perahu bermesin yang dapat ditumpangi oleh 2-10 orang
3.   Lompat tali
4.   Kelereng
5.   Kuliner khas Palembang rasanya mirip tekwan tetapi bentuknya berbeda
6.   Kuliner khas Pa lembang yang terbuat dari tepung beras. Rasanya gurih.
7.   Kumpulan qoshidah untuk memuji Nabi Muhammad Saw baik kehidupan, tingkah laku, dan sebagainya
8.   Teras
9.   Seorang waliyullah yang ‘alim dan berwibawa yang ikut menyebarkan Islam di Palembang, bahkan di tanah air. Pada masa kesultanan Palembang, beliau pernah menduduki jabatan bendahara kesultanan.





Blog Archive

Ngobrol Asik..

Followers